Minggu, 18 Januari 2015

Pandu Memenangkan Sayembara Dewi Kunti


Sura, kakek Sri Krishna, berasal dari keturunan baikbaik
wangsa Yadawa. Putrinya, Pritha, terkenal karena
kecantikan dan kebajikannya. Karena sepupunya yang
bernama Kuntibhoja tidak mempunyai anak, maka Sura
menyerahkan Pritha untuk diangkat anak oleh Kuntibhoja.
Sejak itulah Pritha dikenal dengan nama Dewi Kunti,
mengikuti nama ayah angkatnya.
Semasa Dewi Kunti masih gadis kecil, seorang resi
mahasakti pernah tinggal lama di rumah ayah angkatnya.
Resi itu bernama Durwasa. Dewi Kunti melayani resi tersebut
dengan penuh perhatian, dengan sabar dan penuh
bakti. Resi Durwasa sangat puas akan sikap bakti putri
angkat tuan rumahnya. Karena itu, ia menghadiahkan
mantra suci kepada gadis cilik itu. Katanya, “Jika engkau
ingin memanggil seorang dewa, siapa saja, mantra suci ini
akan membantumu. Dewa yang kaupanggil akan muncul
di hadapanmu dan engkau akan mempunyai anak yang
keagungannya sama dengan keagungan dewa yang
kaupanggil.”
Resi Durwasa menghadiahkan mantra itu kepada Dewi
Kunti, karena dengan kekuatan yoganya ia bisa meramalkan
bahwa kelak gadis itu akan menemui nasib buruk
dengan suaminya.
Karena sangat ingin tahu dan tidak dapat menahan
kesabarannya, Dewi Kunti mencoba kekuatan mantra itu.
Diam-diam ia mengucapkan mantra itu sambil menyebut
nama Batara Surya, Dewa Matahari yang dibayangkannya
bercahaya-cahaya di kahyangan. Tiba-tiba langit menjadi
gelap gulita, tertutup awan tebal. Kemudian, dari balik
awan muncullah Dewa Matahari mendekati Kunti yang
cantik jelita. Batara Surya berdiri di dekatnya sambil
memandangnya dengan takjub dan penuh gairah.
Dewi Kunti, yang berada dalam pengaruh kekuatan gaib
dan keagungan serta kesucian tamunya berkata, “O Dewa,
siapakah engkau?”
Batara Surya menjawab, “Wahai putri jelita, akulah
Batara Surya, Dewa Matahari. Aku terseret ke mayapada
oleh kekuatan gaib mantra yang kauucapkan untuk
memanggilku.”
Dengan perasaan kaget dan gembira Dewi Kunti
berkata, “Aku gadis kecil yang masih berada di bawah
pengawasan ayahku. Aku belum pantas menjadi ibu dan
tidak pernah memimpikannya. Aku hanya ingin mencoba
kekuatan mantra pemberian Resi Durwasa. Kembalilah ke
kahyangan dan maafkanlah ketololanku.”
Tetapi Batara Surya tak bisa kembali ke kahyangan
karena kekuatan gaib mantra itu menahannya. Melihat itu,
Kunti sangat cemas kalau-kalau ia hamil padahal belum
menikah. Ia takut dihina oleh seluruh dunia.
Batara Surya menghibur dan meyakinkannya, “Tak se–
orang pun akan menghinamu, karena setelah melahirkan
anakku engkau akan kembali menjadi perawan suci.”
Maka, karena karunia dan kesaktian Dewa Matahari
yang memancarkan cahaya pemberi kehidupan ke seluruh
muka bumi, Dewi Kunti pun mengandung. Berkat kesaktian
sang Dewa juga, maka begitu mengandung seketika
itu juga ia melahirkan anaknya — tidak seperti umumnya
manusia biasa yang dikandung selama kurang lebih sembilan
bulan. Anak itu dinamakan Karna karena dilahirkan
melalui telinga.*
Karna terlahir lengkap dengan seperangkat senjata
* karna dalam bahasa Sanskerta berarti “telinga”.
perang yang suci dan hiasan telinga yang indah berkilau
seperti matahari. Kelak Karna menjadi senapati perang
yang mahasakti.
Meski kesuciannya tak ternoda, Dewi Kunti merasa
bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya dengan
bayinya. Untuk menghindarkan segala kutuk dan malu,
bayi itu dimasukkannya ke dalam sebuah kotak yang
tertutup rapat lalu dihanyutkannya di sungai. Seorang sais
kereta kuda yang tidak punya anak menemukan kotak itu
terapung-apung dihanyutkan arus air. Ia mengambil kotak
itu dan membukanya. Alangkah kagetnya dia menemukan
seorang bayi tampan di dalamnya.
Ia serahkan bayi itu kepada istrinya yang menerima
anak itu dengan kasih ibu yang berlimpah. Demikianlah
Karna, putra Batara Surya, diasuh dan dibesarkan oleh
keluarga kereta kuda.
Ketika usia Dewi Kunti sudah siap untuk menikah, Raja
Kuntibhoja mengundang semua putra mahkota dari kerajaan-
kerajaan tetangga untuk mengikuti sayembara agar
dapat dipilih menjadi calon suami putri angkatnya. Maka,
berdatanganlah putra-putra mahkota, ingin mempersunting
Dewi Kunti yang termasyhur kecantikan dan
kebajikannya.
Sayembara memperebutkan gelar mahir bela diri dan
menyusun formasi untuk pertempuran perang tanding berlangsung
ketat. Para pangeran saling mengadu kesaktian
dan menunjukkan kehebatan masing-masing. Setelah
beberapa hari berlangsung, akhirnya Raja Pandu keluar
sebagai pemenang. Dia mendapat kalungan bunga tanda
kemenangan dari Dewi Kunti.
Sungguh pantaslah Raja Pandu keluar sebagai pemenang
karena dia terkenal bijaksana dan perkasa dan
berasal dari wangsa Bharata yang ternama. Keluhuran
pribadinya mengatasi semua putra mahkota yang mengikuti
sayembara itu.
Setelah upacara perkawinan yang dilangsungkan dengan
khidmat, disusul pesta meriah tiga hari tiga malam,
Dewi Kunti mengikuti suaminya dan tinggal di Hastinapura.
Atas nasihat Bhisma dan menurut adat istiadat jaman
itu, Raja Pandu menikahi Dewi Madri sebagai istri kedua,
untuk menjaga kelangsungan keturunannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar