Minggu, 18 Januari 2015

Mahatma Widura


Resi Mandawya adalah seorang resi yang telah memperoleh
kekuatan jiwa dan menguasai pengetahuan
tentang kitab-kitab suci. Ia mengisi hari-harinya dengan
bertapa dan melaksanakan kebajikan-kebajikan sesuai
ajaran suci. Ia tinggal di sebuah pertapaan di tengah
hutan.
Pada suatu hari, ketika ia sedang khusyuk bertapa
menyatukan jiwa dan pikirannya di bawah sebatang pohon
rindang di luar pondoknya, datang segerombolan penyamun
ke pertapaannya. Mereka melarikan diri ke dalam
hutan, dikejar-kejar balatentara kerajaan. Mereka mengira
akan aman di dalam pertapaan itu. Para penyamun itu
bersembunyi di sudut pertapaan dan menyembunyikan
harta mereka di sana. Sementara itu, balatentara kerajaan
mengikuti jejak mereka sampai ke pertapaan itu.
Pemimpin balatentara kerajaan melihat Resi Mandawya
yang sedang khusyuk bertapa, tetapi ia tidak menghormatinya.
Dengan suara keras ia berkata kepada pertapa
itu, “He, pertapa, apakah kau melihat perampok lewat di
sekitar sini? Ke arah mana mereka pergi? Jawablah segera
agar kami bisa menangkap mereka.”
Resi Mandawya yang benar-benar sedang khusyuk beryoga,
tidak menjawab apa-apa. Pemimpin itu mengulangi
pertanyaannya dengan kasar. Tetapi resi itu tidak mendengar
apa-apa karena khusyuk bertapa. Sementara itu,
beberapa prajurit memasuki pertapaan dan menggeledah
pondok sang pertapa. Mereka menemukan barang-barang
rampokan di sana. Segera saja mereka melaporkan penemuan
itu kepada sang pemimpin.
Mendengar itu, sang pemimpin memerintahkan pasukannya
untuk menyerbu pertapaan itu. Memang benar,
semua barang curian mereka temukan di sana. Bukan
hanya itu, mereka juga menemukan para perampok yang
bersembunyi di situ.
Pemimpin balatentara kerajaan itu berpikir, “Sekarang
aku tahu mengapa brahmana ini pura-pura diam dan
tenggelam dalam samadinya. Sesungguhnya, dialah kepala
para penyamun itu. Dialah yang merencanakan perampokan
ini.”
Kemudian ia memerintahkan anak buahnya mengurung
pertapaan itu sementara ia pergi melapor ke istana bahwa
Resi Mandawya telah ditangkap dan semua barang rampokan
ditemukan di pertapaannya.
Raja sangat marah mendengar kelancangan kepala
perampok yang berani menyamar sebagai seorang resi yang
disegani. Tanpa memeriksa laporan itu dengan cermat,
Raja langsung memerintahkan agar penjahat licik itu disiksa
dengan tombak. Pemimpin balatentara itu segera kembali
ke pertapaan dan memerintahkan prajurit-prajuritnya
menusuki tubuh resi itu dengan tombak. Setelah puas
menusuk-nusuk tubuh resi itu, mereka memancangnya
dengan tombak.
Mereka meninggalkan sang resi dalam keadaan terpancang
di ujung tombak yang ditegakkan. Kemudian mereka
kembali ke istana untuk mempersembahkan semua barang
rampokan.
Sebagai orang suci, meskipun tubuhnya hancur
ditusuk-tusuk tombak, Resi Mandawya tidak mati. Ia tetap
hidup karena kekuatan yoganya. Kabar tentang apa yang
menimpa Resi Mandawya tersebar ke seluruh hutan. Para
resi yang tinggal di bagian lain hutan itu berdatangan ke
pertapaan Resi Mandawya dan menanyakan apa yang
menyebabkan sang resi menderita seperti itu.
Resi Mandawya menjawab, “Siapa yang bisa
disalahkan? Balatentara raja hanya melaksanakan tugas
mereka, yaitu melindungi rakyat dari para penjahat. Dan
para penjahat memang harus dihukum.”
Raja terkejut dan cemas ketika mendengar bahwa resi
yang telah ditusuk-tusuk dan dipancangkan dengan tombak
ternyata masih hidup dan sedang dikerumuni resi-resi
yang bertapa di hutan. Segera ia memerintahkan balatentaranya
mengawalnya pergi ke hutan. Sesampainya di
sana, Raja memerintahkan agar resi itu diturunkan dari
tombak. Kemudian ia berlutut sambil menyembah dan
meminta ampun atas perbuatan keji yang ia perintahkan.
Resi Mandawya sama sekali tidak marah kepada Raja.
Setelah memaafkan Raja, ia segera menghadap Bagawan
Dharma, pewarta keadilan suci yang sedang duduk di
singgasananya. Sampai di sana, ia bertanya kepada Bagawan
Dharma, “Kejahatan apakah yang telah kulakukan
hingga aku menerima hukuman seperti ini?”
Bagawan Dharma, yang mengetahui kesaktian Resi
Mandawya, menjawab dengan hati-hati, “Wahai, Resi Mandawya,
tanpa kausadari engkau sering menyiksa burung
dan kumbang. Kebaikan dan kejahatan sekecil apa pun
pasti akan mendapat ganjaran yang setimpal.”
Resi Mandawya terkejut mendengar jawaban Bagawan
Dharma. Ia bertanya lagi, “Kapankah aku berbuat kesalahan
itu?”
Bagawan Dharma menjawab, “Ketika engkau masih
kanak-kanak.”
Resi Mandawya lalu mengucapkan kutuk-pastu pada
Bagawan Dharma, “Hukuman yang engkau putuskan
sungguh keterlaluan, jauh melampaui batas kesalahan
yang diperbuat oleh kanak-kanak yang tidak tahu apa-apa.
Karena itu, lahirlah engkau ke dunia sebagai manusia!”
Bagawan Dharma yang di-kutuk-pastu oleh Resi Mandawya
menitis, berinkarnasi dan terlahir ke dunia sebagai
Widura, yaitu pelayan Ratu Ambalika, istri Maharaja
Wichitrawirya.
Kelak Widura, yang sesungguhnya adalah inkarnasi
Bagawan Dharma, disegani orang-orang sebagai seorang
mahatma yang sakti dan mumpuni dalam ilmu pengetahuan
tentang dharma, peradilan, sastra, dan ketatanegaraan.
Widura tidak pernah mempunyai ambisi apa pun dan
sama sekali tidak pernah marah. Kemudian Bhisma
mengangkatnya sebagai penasihat utama Raja Dritarastra
ketika Widura baru berumur belasan tahun. Menurut
Bagawan Wyasa, tak ada orang yang bisa menandingi
Widura di ketiga dunia ini, baik dalam ilmu pengetahuan
maupun dalam kebajikan.
Suatu ketika Dritarastra mengijinkan anak-anaknya
berjudi dadu. Widura segera menyembah di kakinya sambil
berkata, “O, Tuanku Raja, hamba tak dapat menyetujui
perbuatan itu. Putra-putra Tuanku akan berselisih dan
berseteru karena berjudi. Mohon Paduka renungkan katakata
hamba dan jangan ijinkan mereka berjudi.”
Sayang sekali, Maharaja Dritarastra berwatak lemah.
Cintanya yang sangat mendalam kepada putra-putranya
membuatnya tak kuasa menolak permintaan mereka. Ia
bahkan meminta Yudhistira agar mau menerima undangan
Kaurawa untuk berjudi dadu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar