Minggu, 18 Januari 2015

Pandawa Lahir di Hutan


Pada suatu hari Raja Pandu pergi berburu di hutan. Di
dalam hutan itu ada seorang resi yang sedang asyik
bercengkerama dengan istrinya dan menyamar sebagai
sepasang kijang. Pandu yang melihat sepasang kijang itu
tidak menyangka bahwa mereka adalah jelmaan seorang
resi dan istrinya. Dia mengangkat panahnya, membidik
mereka. Dan... meluncurlah anak panah dari tangan Pandu,
melesat cepat, tepat menancap pada tubuh si kijang
jantan.
Kijang itu jatuh terguling. Luka berdarah-darah. Dalam
keadaan sekarat, kijang jantan itu berubah menjadi resi
dan mengucapkan kutuk-pastu terhadap Pandu, “Hai,
lelaki penuh dosa, rasakan kutukanku. Engkau akan
menemui ajalmu sesaat setelah engkau menikmati olah
asmara dengan istrimu.” Setelah melontarkan kutukannya,
resi itu menghembuskan napas yang penghabisan.
Pandu sungguh kaget mendengar kutukan sang resi.
Dengan perasaan putus asa ia memikirkan akibat kutukan
itu. Akhirnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri
dari kerajaan dan menyerahkan semua urusan kerajaan
kepada Bhisma dan Widura. Pandu memutuskan untuk
hidup mengembara di hutan bersama kedua istrinya untuk
menyucikan diri dengan bersamadi dan bertapa.
Dewi Kunti sedih melihat suaminya terkena kutukpastu.
Ia tahu, sebenarnya suaminya ingin sekali mempunyai
keturunan tetapi tak kuasa mewujudkannya karena
kutukan itu. Sebagai istri yang mencintai dan setia kepada
suaminya, ia merasa wajib menolong Pandu. Karena itu ia
menceritakan rahasia mantra gaib yang diterimanya dari
Resi Durwasa.
Pandu mendesak kedua istrinya untuk menggunakan
mantra itu guna memanggil dewa-dewa dari kahyangan.
Dewi Kunti dan Dewi Madri menyanggupi permintaan
suami mereka. Bersama-sama mereka mengucapkan mantra
itu dan memohon agar mereka dikaruniai anak.
Demikianlah yang terjadi. Kedua istri Pandu mengucapkan
mantra dan permohonan mereka dikabulkan. Lima
dewa turun dari kahyangan menemui kedua wanita itu.
Kemudian, dengan cara gaib Dewi Kunti melahirkan tiga
putra dan Dewi Madri melahirkan putra kembar. Kelima
putra itu dibesarkan di tengah hutan dalam asuhan
orangtua mereka, dibantu para resi dan para pertapa di
hutan itu.
Putra Dewi Kunti yang tertua diberi nama Yudhistira,
artinya ‘yang teguh hati dan teguh iman di medan perang’.
Putra ini lahir sebagai titisan Batara Dharma, Dewa
Keadilan dan Kematian, dan disegani karena keteguhan
hatinya, rasa keadilannya, dan keluhuran wibawanya.
Putra kedua diberi nama Bhima atau Bhimasena, terlahir
dari Batara Bayu, Dewa Angin. Bhimasena disegani sebagai
penjelmaan wujud kekuatan yang luar biasa pada manusia.
Ia dilukiskan sebagai orang yang pemberani dan
berperilaku kasar, tetapi berhati lurus dan jujur. Putra
ketiga diberi nama Arjuna, terlahir dari Batara Indra, Dewa
Guruh dan Halilintar. Arjuna, yang berarti ‘cemerlang,
putih bersih bagaikan perak’ disegani sebagai penjelmaan
sifat-sifat pemberani, budi yang luhur, dermawan, lembut
hati dan berwatak kesatria dalam membela kebenaran dan
kehormatan. Putra kembar Dewi Madri diberi nama Nakula
dan Sahadewa dan terlahir dari Dewa Aswin yang kembar,
putra Batara Surya, Dewa Matahari. Putra kembar itu
melambangkan keberanian, semangat, kepatuhan, dan
persahabatan yang kekal.
Kehidupan di alam bebas di dalam hutan itu memberi
pengaruh sangat besar dan mendalam bagi pertumbuhan
jiwa dan raga putra-putra Pandu yang disebut Pandawa.
Kelak, setelah mereka dewasa, kelima putra itu akan
memegang peranan penting dalam sejarah dan membuat
seisi dunia kagum.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun
berganti tahun. Kehidupan di dalam hutan sangat tenang.
Pohon-pohonan dan bermacam-macam binatang hidup
damai bersama manusia yang menghuni hutan itu. Mereka
bagaikan satu keluarga besar yang hidup selaras dengan
alam. Memang demikianlah seharusnya, karena Yang
Maha Kuasa telah menciptakan alam semesta seisinya
dengan tatanan yang adil bagi setiap makhluk ciptaanNya.
Pada suatu pagi di musim semi yang indah, Pandu dan
Dewi Madri duduk termangu memikirkan kutukan yang
membuat mereka sengsara. Mereka sedih merasakan
gairah asmara yang terpendam dan tak mungkin tersalurkan,
padahal alam di sekitar mereka sedang mengenakan
busananya yang terindah. Bunga-bunga bermekaran
menaburkan keharuman yang semerbak, burung-burung
berkicau riang dan aneka margasatwa bercengkerama
memuaskan nafsu berahi dalam udara musim semi yang
segar.
Pandu memandang sekelilingnya, kemudian menatap
Dewi Madri yang jelita. Terpengaruh oleh keindahan alam
dan suasana musim semi yang penuh gairah, ia lupa diri.
Dengan penuh gairah ia memeluk Dewi Madri dan mencumbunya.
Dewi Madri berusaha menolaknya, tapi tak
kuasa. Mereka segera tenggelam dalam olah asmara yang
menggebu-gebu. Tetapi... tiba-tiba Pandu roboh dan
seketika itu juga menghembuskan napas yang penghabisan.
Kutuk-pastu, yang dilontarkan resi yang menjelma
dalam rupa kijang yang mati dipanah oleh Pandu,
menunjukkan kesaktiannya.
Dewi Madri sangat sedih, lebih-lebih karena ia merasa
berdosa dan bertanggung jawab atas kematian Pandu. Ia
segera menghadap Dewi Kunti, memohon agar wanita itu
bersedia mengasuh anak-anaknya sebab ia akan menyusul
suaminya dengan melakukan satya. Tak ada yang dapat
mencegahnya. Dewi Madri melakukan satya dengan
menerjunkan diri ke dalam api pembakar jenazah
suaminya.
Para resi dan para pertapa yang iba melihat Dewi Kunti
dan anak-anaknya kemudian mengantarkan mereka ke
Hastinapura. Ketika itu Yudhistira, sulung di antara para
Pandawa, baru berusia belasan tahun. Sampai di Hastinapura,
rombongan itu menghadap Bhisma. Para resi dan
pertapa itu mengabarkan mangkatnya Raja Pandu dan
menyerahkan Dewi Kunti dan kelima putra Raja Pandu ke
dalam asuhan Bhisma. Mendengar kabar itu, seisi kerajaan
berkabung. Widura, Bhisma, Wyasa, dan Dritarastra
kemudian melaksanakan upacara persembahyangan untuk
mendoakan arwah Raja Pandu yang manunggal paratman
kekal abadi
Bagawan Wyasa berkata kepada Satyawati, nenek Raja
Pandu, “Masa lampau telah berlalu bersama suka dukanya,
tetapi masa depan akan datang membawa kedukaan
yang lebih menyakitkan. Dunia ini telah memikul kegairahan
orang muda yang terbuai mimpi-mimpi. Sekarang
dunia akan memasuki jaman yang penuh dosa, kepahitan,
kesedihan, dan penderitaan. Tak ada yang bisa menghindarinya.
Waktu terus berjalan, menyusuri garis takdirnya.
Engkau tak usah menunggu untuk menyaksikan semua
malapetaka yang akan menimpa anak keturunanmu. Akan
lebih baik bagimu jika kau meninggalkan Hastinapura dan
melewatkan hari-harimu dengan bersamadi dan bertapa di
dalam hutan.”
Satyawati menerima nasihat Bagawan Wyasa. Bersama
Ratu Ambika dan Ratu Ambalika, ia pergi ke hutan. Ketiga
ratu yang telah lanjut usia itu melewatkan hari-hari mereka
dengan bersamadi dan menyucikan diri serta berdoa
agar anak keturunan mereka terhindar dari malapetaka.
Itulah yang mereka lakukan, hari demi hari, bulan demi
bulan, sampai mereka mencapai moksha.

Pandu Memenangkan Sayembara Dewi Kunti


Sura, kakek Sri Krishna, berasal dari keturunan baikbaik
wangsa Yadawa. Putrinya, Pritha, terkenal karena
kecantikan dan kebajikannya. Karena sepupunya yang
bernama Kuntibhoja tidak mempunyai anak, maka Sura
menyerahkan Pritha untuk diangkat anak oleh Kuntibhoja.
Sejak itulah Pritha dikenal dengan nama Dewi Kunti,
mengikuti nama ayah angkatnya.
Semasa Dewi Kunti masih gadis kecil, seorang resi
mahasakti pernah tinggal lama di rumah ayah angkatnya.
Resi itu bernama Durwasa. Dewi Kunti melayani resi tersebut
dengan penuh perhatian, dengan sabar dan penuh
bakti. Resi Durwasa sangat puas akan sikap bakti putri
angkat tuan rumahnya. Karena itu, ia menghadiahkan
mantra suci kepada gadis cilik itu. Katanya, “Jika engkau
ingin memanggil seorang dewa, siapa saja, mantra suci ini
akan membantumu. Dewa yang kaupanggil akan muncul
di hadapanmu dan engkau akan mempunyai anak yang
keagungannya sama dengan keagungan dewa yang
kaupanggil.”
Resi Durwasa menghadiahkan mantra itu kepada Dewi
Kunti, karena dengan kekuatan yoganya ia bisa meramalkan
bahwa kelak gadis itu akan menemui nasib buruk
dengan suaminya.
Karena sangat ingin tahu dan tidak dapat menahan
kesabarannya, Dewi Kunti mencoba kekuatan mantra itu.
Diam-diam ia mengucapkan mantra itu sambil menyebut
nama Batara Surya, Dewa Matahari yang dibayangkannya
bercahaya-cahaya di kahyangan. Tiba-tiba langit menjadi
gelap gulita, tertutup awan tebal. Kemudian, dari balik
awan muncullah Dewa Matahari mendekati Kunti yang
cantik jelita. Batara Surya berdiri di dekatnya sambil
memandangnya dengan takjub dan penuh gairah.
Dewi Kunti, yang berada dalam pengaruh kekuatan gaib
dan keagungan serta kesucian tamunya berkata, “O Dewa,
siapakah engkau?”
Batara Surya menjawab, “Wahai putri jelita, akulah
Batara Surya, Dewa Matahari. Aku terseret ke mayapada
oleh kekuatan gaib mantra yang kauucapkan untuk
memanggilku.”
Dengan perasaan kaget dan gembira Dewi Kunti
berkata, “Aku gadis kecil yang masih berada di bawah
pengawasan ayahku. Aku belum pantas menjadi ibu dan
tidak pernah memimpikannya. Aku hanya ingin mencoba
kekuatan mantra pemberian Resi Durwasa. Kembalilah ke
kahyangan dan maafkanlah ketololanku.”
Tetapi Batara Surya tak bisa kembali ke kahyangan
karena kekuatan gaib mantra itu menahannya. Melihat itu,
Kunti sangat cemas kalau-kalau ia hamil padahal belum
menikah. Ia takut dihina oleh seluruh dunia.
Batara Surya menghibur dan meyakinkannya, “Tak se–
orang pun akan menghinamu, karena setelah melahirkan
anakku engkau akan kembali menjadi perawan suci.”
Maka, karena karunia dan kesaktian Dewa Matahari
yang memancarkan cahaya pemberi kehidupan ke seluruh
muka bumi, Dewi Kunti pun mengandung. Berkat kesaktian
sang Dewa juga, maka begitu mengandung seketika
itu juga ia melahirkan anaknya — tidak seperti umumnya
manusia biasa yang dikandung selama kurang lebih sembilan
bulan. Anak itu dinamakan Karna karena dilahirkan
melalui telinga.*
Karna terlahir lengkap dengan seperangkat senjata
* karna dalam bahasa Sanskerta berarti “telinga”.
perang yang suci dan hiasan telinga yang indah berkilau
seperti matahari. Kelak Karna menjadi senapati perang
yang mahasakti.
Meski kesuciannya tak ternoda, Dewi Kunti merasa
bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya dengan
bayinya. Untuk menghindarkan segala kutuk dan malu,
bayi itu dimasukkannya ke dalam sebuah kotak yang
tertutup rapat lalu dihanyutkannya di sungai. Seorang sais
kereta kuda yang tidak punya anak menemukan kotak itu
terapung-apung dihanyutkan arus air. Ia mengambil kotak
itu dan membukanya. Alangkah kagetnya dia menemukan
seorang bayi tampan di dalamnya.
Ia serahkan bayi itu kepada istrinya yang menerima
anak itu dengan kasih ibu yang berlimpah. Demikianlah
Karna, putra Batara Surya, diasuh dan dibesarkan oleh
keluarga kereta kuda.
Ketika usia Dewi Kunti sudah siap untuk menikah, Raja
Kuntibhoja mengundang semua putra mahkota dari kerajaan-
kerajaan tetangga untuk mengikuti sayembara agar
dapat dipilih menjadi calon suami putri angkatnya. Maka,
berdatanganlah putra-putra mahkota, ingin mempersunting
Dewi Kunti yang termasyhur kecantikan dan
kebajikannya.
Sayembara memperebutkan gelar mahir bela diri dan
menyusun formasi untuk pertempuran perang tanding berlangsung
ketat. Para pangeran saling mengadu kesaktian
dan menunjukkan kehebatan masing-masing. Setelah
beberapa hari berlangsung, akhirnya Raja Pandu keluar
sebagai pemenang. Dia mendapat kalungan bunga tanda
kemenangan dari Dewi Kunti.
Sungguh pantaslah Raja Pandu keluar sebagai pemenang
karena dia terkenal bijaksana dan perkasa dan
berasal dari wangsa Bharata yang ternama. Keluhuran
pribadinya mengatasi semua putra mahkota yang mengikuti
sayembara itu.
Setelah upacara perkawinan yang dilangsungkan dengan
khidmat, disusul pesta meriah tiga hari tiga malam,
Dewi Kunti mengikuti suaminya dan tinggal di Hastinapura.
Atas nasihat Bhisma dan menurut adat istiadat jaman
itu, Raja Pandu menikahi Dewi Madri sebagai istri kedua,
untuk menjaga kelangsungan keturunannya.

Mahatma Widura


Resi Mandawya adalah seorang resi yang telah memperoleh
kekuatan jiwa dan menguasai pengetahuan
tentang kitab-kitab suci. Ia mengisi hari-harinya dengan
bertapa dan melaksanakan kebajikan-kebajikan sesuai
ajaran suci. Ia tinggal di sebuah pertapaan di tengah
hutan.
Pada suatu hari, ketika ia sedang khusyuk bertapa
menyatukan jiwa dan pikirannya di bawah sebatang pohon
rindang di luar pondoknya, datang segerombolan penyamun
ke pertapaannya. Mereka melarikan diri ke dalam
hutan, dikejar-kejar balatentara kerajaan. Mereka mengira
akan aman di dalam pertapaan itu. Para penyamun itu
bersembunyi di sudut pertapaan dan menyembunyikan
harta mereka di sana. Sementara itu, balatentara kerajaan
mengikuti jejak mereka sampai ke pertapaan itu.
Pemimpin balatentara kerajaan melihat Resi Mandawya
yang sedang khusyuk bertapa, tetapi ia tidak menghormatinya.
Dengan suara keras ia berkata kepada pertapa
itu, “He, pertapa, apakah kau melihat perampok lewat di
sekitar sini? Ke arah mana mereka pergi? Jawablah segera
agar kami bisa menangkap mereka.”
Resi Mandawya yang benar-benar sedang khusyuk beryoga,
tidak menjawab apa-apa. Pemimpin itu mengulangi
pertanyaannya dengan kasar. Tetapi resi itu tidak mendengar
apa-apa karena khusyuk bertapa. Sementara itu,
beberapa prajurit memasuki pertapaan dan menggeledah
pondok sang pertapa. Mereka menemukan barang-barang
rampokan di sana. Segera saja mereka melaporkan penemuan
itu kepada sang pemimpin.
Mendengar itu, sang pemimpin memerintahkan pasukannya
untuk menyerbu pertapaan itu. Memang benar,
semua barang curian mereka temukan di sana. Bukan
hanya itu, mereka juga menemukan para perampok yang
bersembunyi di situ.
Pemimpin balatentara kerajaan itu berpikir, “Sekarang
aku tahu mengapa brahmana ini pura-pura diam dan
tenggelam dalam samadinya. Sesungguhnya, dialah kepala
para penyamun itu. Dialah yang merencanakan perampokan
ini.”
Kemudian ia memerintahkan anak buahnya mengurung
pertapaan itu sementara ia pergi melapor ke istana bahwa
Resi Mandawya telah ditangkap dan semua barang rampokan
ditemukan di pertapaannya.
Raja sangat marah mendengar kelancangan kepala
perampok yang berani menyamar sebagai seorang resi yang
disegani. Tanpa memeriksa laporan itu dengan cermat,
Raja langsung memerintahkan agar penjahat licik itu disiksa
dengan tombak. Pemimpin balatentara itu segera kembali
ke pertapaan dan memerintahkan prajurit-prajuritnya
menusuki tubuh resi itu dengan tombak. Setelah puas
menusuk-nusuk tubuh resi itu, mereka memancangnya
dengan tombak.
Mereka meninggalkan sang resi dalam keadaan terpancang
di ujung tombak yang ditegakkan. Kemudian mereka
kembali ke istana untuk mempersembahkan semua barang
rampokan.
Sebagai orang suci, meskipun tubuhnya hancur
ditusuk-tusuk tombak, Resi Mandawya tidak mati. Ia tetap
hidup karena kekuatan yoganya. Kabar tentang apa yang
menimpa Resi Mandawya tersebar ke seluruh hutan. Para
resi yang tinggal di bagian lain hutan itu berdatangan ke
pertapaan Resi Mandawya dan menanyakan apa yang
menyebabkan sang resi menderita seperti itu.
Resi Mandawya menjawab, “Siapa yang bisa
disalahkan? Balatentara raja hanya melaksanakan tugas
mereka, yaitu melindungi rakyat dari para penjahat. Dan
para penjahat memang harus dihukum.”
Raja terkejut dan cemas ketika mendengar bahwa resi
yang telah ditusuk-tusuk dan dipancangkan dengan tombak
ternyata masih hidup dan sedang dikerumuni resi-resi
yang bertapa di hutan. Segera ia memerintahkan balatentaranya
mengawalnya pergi ke hutan. Sesampainya di
sana, Raja memerintahkan agar resi itu diturunkan dari
tombak. Kemudian ia berlutut sambil menyembah dan
meminta ampun atas perbuatan keji yang ia perintahkan.
Resi Mandawya sama sekali tidak marah kepada Raja.
Setelah memaafkan Raja, ia segera menghadap Bagawan
Dharma, pewarta keadilan suci yang sedang duduk di
singgasananya. Sampai di sana, ia bertanya kepada Bagawan
Dharma, “Kejahatan apakah yang telah kulakukan
hingga aku menerima hukuman seperti ini?”
Bagawan Dharma, yang mengetahui kesaktian Resi
Mandawya, menjawab dengan hati-hati, “Wahai, Resi Mandawya,
tanpa kausadari engkau sering menyiksa burung
dan kumbang. Kebaikan dan kejahatan sekecil apa pun
pasti akan mendapat ganjaran yang setimpal.”
Resi Mandawya terkejut mendengar jawaban Bagawan
Dharma. Ia bertanya lagi, “Kapankah aku berbuat kesalahan
itu?”
Bagawan Dharma menjawab, “Ketika engkau masih
kanak-kanak.”
Resi Mandawya lalu mengucapkan kutuk-pastu pada
Bagawan Dharma, “Hukuman yang engkau putuskan
sungguh keterlaluan, jauh melampaui batas kesalahan
yang diperbuat oleh kanak-kanak yang tidak tahu apa-apa.
Karena itu, lahirlah engkau ke dunia sebagai manusia!”
Bagawan Dharma yang di-kutuk-pastu oleh Resi Mandawya
menitis, berinkarnasi dan terlahir ke dunia sebagai
Widura, yaitu pelayan Ratu Ambalika, istri Maharaja
Wichitrawirya.
Kelak Widura, yang sesungguhnya adalah inkarnasi
Bagawan Dharma, disegani orang-orang sebagai seorang
mahatma yang sakti dan mumpuni dalam ilmu pengetahuan
tentang dharma, peradilan, sastra, dan ketatanegaraan.
Widura tidak pernah mempunyai ambisi apa pun dan
sama sekali tidak pernah marah. Kemudian Bhisma
mengangkatnya sebagai penasihat utama Raja Dritarastra
ketika Widura baru berumur belasan tahun. Menurut
Bagawan Wyasa, tak ada orang yang bisa menandingi
Widura di ketiga dunia ini, baik dalam ilmu pengetahuan
maupun dalam kebajikan.
Suatu ketika Dritarastra mengijinkan anak-anaknya
berjudi dadu. Widura segera menyembah di kakinya sambil
berkata, “O, Tuanku Raja, hamba tak dapat menyetujui
perbuatan itu. Putra-putra Tuanku akan berselisih dan
berseteru karena berjudi. Mohon Paduka renungkan katakata
hamba dan jangan ijinkan mereka berjudi.”
Sayang sekali, Maharaja Dritarastra berwatak lemah.
Cintanya yang sangat mendalam kepada putra-putranya
membuatnya tak kuasa menolak permintaan mereka. Ia
bahkan meminta Yudhistira agar mau menerima undangan
Kaurawa untuk berjudi dadu.

Yayati Tua Ingin Muda Kembali


Maharaja Yayati adalah putra Raja Nahusha dan salah
seorang nenek moyang Pandawa. Ia tidak pernah
kalah dalam peperangan. Ia selalu mengikuti petunjukpetunjuk
kitab suci Sastra, menyembah Tuhan dan
menghormati nenek moyang dengan pengabdian yang tak
pernah putus. Ia menjadi masyhur karena pemerintahannya
ditujukan untuk kesejahteraan rakyatnya. Sayangnya,
ia cepat menjadi tua karena kutuk-pastu Mahaguru Sukra
yang diterimanya karena ia bersikap tidak adil terhadap
Dewayani, istrinya. Yayati menjadi tua renta dengan cepat.
Semangat hidupnya hancur, ia merasa malu dan terhina.
Ia tak mampu lagi mereguk kenikmatan dunia, padahal
gairah nafsunya untuk merasakan madu asmara masih
menggebu-gebu.
Pada suatu hari, Yayati memanggil kelima putranya.
Setelah mereka menghadap, ia berkata dengan lembut,
meminta mereka agar sudi menolong ayah mereka.
Kata Yayati, “Kutuk-pastu telah dijatuhkan oleh kakekmu
Mahaguru Sukra, membuatku tiba-tiba menjadi tua.
Tahu-tahu aku menjadi tua sebelum waktunya, padahal
aku belum puas mengecap kenikmatan duniawi.
“Ketahuilah, hai putra-putraku, sejak muda aku hidup
dengan mengekang hawa nafsuku, menolak semua kesenangan
duniawi walaupun kesenangan itu wajar dan tidak
melanggar aturan kitab-kitab suci. Setelah menikah dengan
ibu kalian, belum lama mengecap kebahagiaan, tahu-
tahu aku menjadi tua. Sebab itu, salah seorang dari engkau
hendaknya membantuku memikul bebanku, mengambil
ketuaanku dan memberikan kemudaanmu padaku.
Siapa di antara kamu yang bersedia menolongku akan
kuangkat menjadi raja negeri ini. Aku ingin menikmati
hidupku sebagai orang muda yang penuh gairah.”
Pertama-tama ia bertanya kepada putra sulungnya.
Putra sulungnya berkata, “Oh, Ayahanda Raja, semua
perempuan dan dayang-dayang akan mencemoohkan aku
kalau aku menjadi tua dalam umurku sekarang. Aku tidak
sanggup menolong Ayahanda. Tanyailah adik-adikku saja.”
Yayati bertanya kepada putranya yang kedua. Dengan
lemah lembut pangeran itu menolak, “Ayahanda, Paduka
menyuruhku menjadi tua, itu berarti Paduka menghancurkan
seluruh kekuatan dan ketampananku, dan seperti
yang kutahu, itu juga kebajikan. Aku tidak mampu menghadapi
hal ini.”
Selanjutnya, ketika giliran ditanya, putra yang ketiga
menjawab, “Seorang lelaki tua tidak akan mampu naik
kuda atau naik gajah dan bicaranya gemetar. Apa yang
masih bisa kulakukan nanti jika tiba-tiba aku menjadi
renta? Aku tidak sanggup.”
Maharaja Yayati marah mendengar penolakan ketiga
putranya. Susah payah dia berusaha mengendalikan diri,
menahan amarahnya, dan mencoba berharap pada putranya
yang keempat. Ia berkata, “Maukah engkau mengambil
ketuaanku? Maukah kau menukar kemudaanmu dengan
ketuaanku, untuk sementara saja? Tidak lama. Ayah akan
segera menukarnya kembali. Ayah akan mengambil kembali
ketuaan itu dan itu akan membuatmu menjadi muda
lagi.”
Tetapi putranya yang keempat meminta maaf karena ia
tidak bisa melakukan itu. Putra keempat itu tahu, sebagai
lelaki tua renta nanti, hidupnya akan bergantung pada
orang lain. Ia akan terpaksa selalu meminta bantuan orang
lain karena tak mampu membersihkan badannya sendiri,
misalnya. Karena itu, betapapun sangat mencintai ayahnya,
dia tak sanggup memenuhi permintaannya.
Perasaan Yayati kacau. Ia sedih, marah, dan kesal
mendengar penolakan keempat putranya. Tetapi, masih
ada satu harapan, yaitu putranya yang kelima. Putra
bungsunya itu belum pernah menolak permintaan atau
perintahnya. Katanya, “Engkau harus menolong ayahmu.
Aku hidup sengsara karena ketuaanku ini, karena kulitku
yang keriput, karena rambutku yang memutih, dan karena
ketidakmampuanku. Semua ini gara-gara kutuk-pastu
kakekmu, Mahaguru Sukra. Cobaan ini terlalu berat bagiku!
Aku ingin menikmati masa mudaku beberapa waktu
lagi. Maukah engkau mengambil ketuaanku untuk sementara?
Setelah cukup puas, aku akan segera mengembalikan
kemudaanmu. Aku akan terima ketuaanku lagi
dengan senang hati. Janganlah engkau menolak permintaanku
seperti kakak-kakakmu.”
Puru, putra bungsu Yayati yang sangat menyayangi
ayahnya, berkata, “Ayahku, dengan senang hati aku akan
memberikan kemudaanku kepadamu agar Ayahanda
terlepas dari cengkeraman segala kedukaan dan kesusahan
dalam memerintah kerajaan. Ambillah kemudaanku
dan berbahagialah Ayahanda!”
Mendengar jawaban itu, Yayati memeluk Puru. Ajaib!
Begitu menyentuh putranya, seketika itu juga dia menjadi
muda kembali. Sebaliknya, Puru tiba-tiba berubah menjadi
tua.
Yayati memenuhi janjinya. Takhta kerajaan ia serahkan
kepada Puru yang kemudian termasyhur sebagai raja yang
memerintah dengan adil dan bijaksana.
Sementara itu, Yayati hidup lama dan menikmati
kehidupan sebagai orang muda. Ia reguk segala kenikmatan
duniawi dengan gairah yang tak pernah terpuaskan. Ia
pergi ke Taman Kubera dan tinggal di sana selama
bertahun-tahun bersama wanita-wanita cantik dan para
bidadari. Bertahun-tahun ia melampiaskan hawa nafsunya
dan menuruti semua keinginannya, tetapi tak pernah
merasa puas. Di balik itu semua, ia merasa hidupnya
hampa dan tak berarti karena hanya mengejar kenikmatan.
Akhirnya ia sadar, semua itu sia-sia.
Yayati kembali ke kerajaannya lalu menemui Puru.
Kepada putranya itu ia berkata, “Anakku sayang, sekarang
ayahmu sadar. Ternyata nafsu berahi tidak dapat dilawan
dengan melampiaskannya. Ibarat memadamkan api
dengan minyak. Padahal aku sudah mendengar dan membaca
ajaran itu sejak muda, tetapi tidak menyadarinya.
Baru setelah menjalani kehidupan serba bebas tanpa
kekangan, Ayah menjadi sadar. Tak satu pun keinginan
duniawi, seperti gandum, emas, sapi, perempuan, dan lainlain,
dapat membuat manusia merasa puas. Tak satu pun
dapat membuat manusia merasa damai. Kita hanya dapat
mencapai kedamaian dengan keseimbangan jiwa yang
mengatasi segala kesenangan dan ketidaksenangan. Ketenangan
jiwa dan perasaan damai yang sejati adalah
karunia mulia dari Yang Maha Kuasa.
“Wahai Puru putraku, ambillah kembali kemudaanmu
dan perintahlah kerajaan ini dengan bijaksana dan penuh
kebajikan.”
Setelah berkata demikian, Yayati memeluk putranya.
Seketika itu juga ia berubah menjadi tua renta dan Puru
kembali menjadi muda. Puru meneruskan pemerintahannya
dengan adil dan bijaksana.
Raja Puru mempunyai putra bernama Dushmanta, yang
kelak kawin dengan Syakuntala, putri angkat Resi Kanwa.
Anak Syakuntala dan Dushmanta dinamai Bharata. Kelak,
anak keturunan Bharata menjadi wangsa yang termasyhur.
Setelah mendapatkan kembali ketuaannya, Yayati pergi
ke hutan. Di sana ia bertapa dan menjalankan ajaranajaran
suci hingga tiba waktunya ia kembali ke surga.

Kutukan Mahaguru Sukra


Pada suatu sore setelah puas bermain di taman istana,
Dewayani dan putri-putri Wrishaparwa, raja para
raksasa, pergi mandi ke telaga di tepi hutan yang jernih
dan sejuk airnya. Sebelum menceburkan diri ke dalam air
yang segar, mereka menanggalkan pakaian dan menyimpan
pakaian itu di tepi telaga. Tiba-tiba angin puting
beliung berembus kencang, menerbangkan pakaian
mereka dan membuatnya menjadi satu tumpukan. Setelah
mandi dan berpakaian, ternyata terjadi kekeliruan. Tanpa
sengaja Sarmishta, putri Wrishaparwa, mengenakan pakaian
Dewayani. Melihat itu Dewayani berkata, “Alangkah
tidak pantasnya putri seorang murid mengenakan pakaian
milik putri gurunya.”
Walaupun kata-kata itu diucapkan dengan lembut,
Sarmishta merasa disindir dan tersinggung. Ia marah dan
dengan angkuh berkata, “Tidakkah engkau sadar bahwa
ayahmu setiap hari dengan hinanya berlutut menyembah
ayahku? Bukankah ayahmu menggantungkan hidupnya
pada belas kasihan ayahku? Lupakah kau bahwa aku ini
anak raja yang dengan murah hati memberikan tumpangan
hidup bagimu dan bagi ayahmu? Hai, Dewayani,
sesungguhnya kau hanya keturunan peminta-minta!
Lancang benar kata-katamu kepadaku.”
Memang benar apa yang dikatakan Sarmishta. Sebagai
resi atau pandeta, Mahaguru Sukra berkasta brahmana.
Sesuai adat, ia hidup dari belas kasihan orang lain. Jika
memerlukan sarana hidup, seorang brahmana hanya boleh
meminta-minta. Meskipun demikian, sesungguhnya bagi
kasta brahmana hal itu dianggap perbuatan yang mulia.
Dewayani tidak menanggapi kata-kata Sarmishta.
Sebaliknya, Sarmishta yang terbakar oleh kata-katanya
sendiri, menjadi semakin marah. Tak dapat mengendalikan
diri, tangannya terayun, menampar pipi Dewayani. Ia
bahkan mendorong putri resi itu sampai jatuh ke parit
yang dalam. Sarmishta, yang mengira Dewayani sudah
mati, segera kembali ke istana.
Sementara itu, Dewayani merasa cemas dan sedih
karena tidak bisa keluar dari parit yang dalam itu.
Kebetulan, Maharaja Yayati, seorang keturunan Bharata,
sedang berburu di tepi hutan dan melewati tempat itu.
Karena haus, ia mencari air. Dilihatnya ada parit berair
jernih di dekat situ. Dia turun dari kudanya, mendekati
parit itu, lalu membungkuk hendak mengambil airnya.
Ketika itulah ia melihat sesuatu yang bercahaya di dasar
parit. Yayati memperhatikan dengan lebih saksama dan
terkejut melihat seorang putri jelita terpuruk di dalam
parit.
Lalu ia bertanya, “Siapakah engkau ini, hai putri jelita
dengan anting-anting berkilau dan kuku bercat merah
indah? Siapakah ayahmu? Keturunan siapakah engkau?
Bagaimana engkau bisa jatuh ke dalam parit ini?”
Dewayani menjawab sambil mengulurkan tangan
kanannya, “Namaku Dewayani. Aku putri Resi Sukra.
Tolonglah aku keluar dari dalam parit ini.”
Yayati menyambut tangan yang halus itu lalu menolong
Dewayani keluar.
Dewayani tidak ingin kembali ke ibukota kerajaan
raksasa. Ia merasa tinggal di sana sudah tidak aman lagi,
lebih-lebih jika ia ingat perbuatan Sarmishta. Karena itu,
ia berkata kepada Yayati, “Kau telah memegang tangan
kanan seorang putri, berarti engkau harus menikahinya.
Aku yakin, dalam segala hal kau pantas menjadi suamiku.”
Yayati menjawab, “Wahai putri jelita, aku seorang
kesatria dan engkau seorang brahmana.* Bagaimana aku
bisa mengawini engkau? Apa mungkin putri Resi Sukra
yang disegani di seluruh dunia menjadi istri seorang kesatria
seperti aku? Putri yang agung, kembalilah pulang.”
Setelah berkata demikian, Yayati kembali ke ibukota
kerajaannya.
Sepeninggal Yayati, Dewayani tetap bertekad untuk
tidak pulang ke istana. Ia memilih tinggal di hutan, di
bawah sebatang pohon.
Sementara itu, Resi Sukra sia-sia menunggu putrinya
pulang. Beberapa hari berlalu, tetapi Dewayani tak kunjung
pulang. Akhirnya Resi Sukra menyuruh seseorang
mencari putri kesayangannya.
Utusan itu mencari ke mana-mana. Setelah menempuh
perjalanan cukup jauh, akhirnya dia menemukan Dewayani
yang duduk di bawah sebatang pohon di tepi hutan.
Putri itu tampak sangat sedih. Matanya merah karena
lama menangis. Wajahnya keruh karena marah. Utusan itu
lalu bertanya, apa yang telah terjadi.
Dewayani menjawab, “Kembalilah engkau dan sampaikan
kepada ayahku bahwa aku tak sudi lagi menginjakkan
kakiku di ibukota kerajaan Wrishaparwa.”
Setelah mohon pamit, utusan itu kembali ke istana
untuk melaporkan hal itu kepada Resi Sukra.
Mendengar laporan utusannya, Resi Sukra sangat
sedih. Ia segera menemui anaknya dan menghiburnya
sambil berkata, “Anakku sayang, kebahagiaan dan kesengsaraan
seseorang merupakan akibat dari perbuatannya
sendiri. Kalau kita bijaksana, kebajikan atau kejahatan
orang lain tidak akan mempengaruhi kita.” Demikianlah
Resi Sukra mencoba menghibur anaknya.
* Menurut tradisi kuno yang disebut anuloma, perempuan dari kasta
kesatria boleh menikah dengan laki-laki dari kasta brahmana. Tetapi,
perempuan dari kasta brahmana tidak dibenarkan menikah dengan lakilaki
dari kasta kesatria. Tradisi kuno yang disebut pratilonia ini untuk
menjaga agar kaum wanita tidak direndahkan derajatnya ke status kasta
yang lebih rendah. Hal ini dinyatakan dalam kitab-kitab suci Sastra.
Tetapi Dewayani menjawab dengan sedih bercampur
dengki, “Ayahku, biarkanlah segala kebaikan dan keburukanku
bersama diriku karena semua itu urusanku sendiri.
Tetapi jawablah pertanyaanku ini. Kata Sarmishta, anak
Wrishaparwa, ayahku seorang ‘budak penyanyi’ yang kerjanya
hanya menyanjung-nyanjung tuannya. Benarkah?
Katanya, aku ini anak seorang peminta-minta yang hidup
dari belas kasihan orang. Benarkah? Sarmishta sungguh
kasar. Tidak puas mengata-ngatai aku, ia menampar dan
mendorongku ke dalam parit. Aku bersumpah, aku takkan
sudi hidup di wilayah kekuasaan ayahnya.” Dewayani
menangis tersedu-sedu.
Dengan tenang dan penuh martabat, Mahaguru Sukra
berkata, “Wahai anakku Dewayani, engkau bukan anak
‘budak penyanyi’ raja. Ayahmu tidak hidup dengan
meminta-minta, mengemis belas kasihan orang. Engkau
putri seorang resi yang dihormati dan hidup dimanja di
seluruh dunia. Batara Indra, raja semua dewa, tahu akan
hal ini. Wrishaparwa tidak membutakan mata terhadap
hutang budinya kepada ayahmu. Tetapi, orang yang bijaksana
tidak pernah mengagung-agungkan kebesarannya
sendiri.
“Sudahlah, Ayah tidak akan mengatakan apa-apa lagi
tentang jasa-jasa Ayah. Bangkitlah, wahai mutiara nan
kemilau. Kaulah yang paling jelita di antara semua wanita.
Engkau akan membawa kebahagiaan bagi keluargamu.
Bersabarlah dan marilah kita pulang.”
Tetapi Dewayani tetap berkeras tidak mau pulang.
Resi Sukra menasihatinya lagi, “Sungguh mulia orang
yang dengan sabar menerima caci maki. Orang yang dapat
menahan amarah ibarat kusir yang mampu menaklukkan
dan mengendalikan kuda liar. Orang yang dapat membuang
amarah jauh-jauh seperti ular yang mengelupas
kulitnya. Orang yang tidak gentar menerima siksaan akan
berhasil mencapai cita-citanya. Seperti disebutkan dalam
kitab-kitab suci, orang yang tidak pernah marah lebih
mulia daripada orang yang taat melakukan upacara
sembahyang selama seratus tahun. Pelayan, teman,
saudara, istri, anak-anak, kebajikan dan kebenaran akan
meninggalkan orang yang tak mampu mengendalikan
amarahnya. Orang yang bijaksana tidak akan memasukkan
kata-kata anak muda ke dalam hatinya.”
Mendengar itu, Dewayani bersujud menyembah
ayahnya, “Ayahanda, aku masih muda. Nasihat-nasihat
Ayahanda masih sulit kupahami. Tetapi, sungguh tidak
pantas bagiku untuk hidup bersama orang yang tidak
mengenal sopan santun. Orang yang bijaksana tidak akan
bersahabat dengan orang yang selalu menjelek-jelekkan
keluarganya. Orang jahat, walaupun kaya raya, sesungguhnya
adalah hina dan tidak berkasta. Orang yang taat
beribadah tidak pantas bergaul dengan mereka. Hatiku
sangat marah karena keangkuhan anak Wrishaparwa.
Segores luka lambat laun akan sembuh, tetapi luka hati
karena kata-kata tajam akan meninggalkan goresan pedih
yang seumur hidup takkan hilang.”
Setelah gagal membujuk putrinya untuk pulang, Resi
Sukra kembali ke istana Wrishaparwa. Sampai di hadapan
Raja, dengan mata tajam ia memandangnya sambil berkata,
“Walaupun dosa seseorang tidak akan segera mendapat
balasan, lambat laun dosa itu pasti akan menghancurkan
sumber kekayaannya. Kacha, anak Wrihaspati dan
seorang brahmacharin, telah menaklukkan pancaindranya
dan tidak pernah berbuat dosa. Ia telah melayani aku
dengan penuh kepatuhan dan tidak pernah melanggar
sumpahnya. Para raksasa rakyatmu beberapa kali berusaha
membunuh dia, tetapi aku menghidupkannya lagi. Kini,
anakku yang memegang teguh susila dicaci-maki oleh
anakmu, Sarmishta. Ia bahkan mendorong anakku sampai
jatuh ke parit yang dalam. Ia tidak tahan lagi tinggal dalam
lingkungan kerajaanmu. Dan karena aku tidak bisa hidup
tanpa dia, aku akan pergi meninggalkan kerajaanmu.”
Mendengar itu, Wrishaparwa merasa terancam malapetaka.
Ia berkata, “Aku tidak mengerti mengapa engkau
melontarkan tuduhan itu. Tetapi, kalau engkau pergi aku
akan terjun ke dalam api.”
Resi Sukra menjawab, “Yang kuinginkan hanyalah
kebahagiaan anakku. Aku tidak peduli nasibmu dan nasib
para raksasa rakyatmu. Dewayani anakku satu-satunya,
anak yang kukasihi melebihi hidupku sendiri. Engkau
kuijinkan mencoba menenangkan dia dan membujuknya
agar mau tetap tinggal di sini. Jika dia mau, aku tidak
akan pergi.”
Maka pergilah Wrishaparwa diiringkan beberapa pengawal.
Mereka hendak menemui Dewayani di tepi hutan.
Sesampainya di depan gadis itu, Wrishaparwa menyembah
dan memohon agar Dewayani tidak meninggalkan kerajaannya.
Tetapi Dewayani berkata acuh tak acuh, “Sarmishta,
yang mengata-ngatai aku anak pengemis harus menjadi
dayang-dayang di rumahku dan harus menjadi pengiringku
waktu aku dinikahkan oleh ayahku.”
Wrishaparwa menerima tuntutan itu dan memerintahkan
pengiringnya menjemput Sarmishta. Putri raja itu
mengakui kesalahannya, lalu menyembah sambil berkata,
“Baiklah aku akan menjadi dayang-dayang Dewayani
seperti yang dikehendakinya. Tidak seharusnya ayahku
kehilangan mahagurunya dan menerima balasan atas
kesalahanku.”
Dewayani menerima permintaan maaf Sarmishta. Mereka
berdamai dan semua kembali ke istana Wrishaparwa.
Pada suatu hari Dewayani bertemu dengan Yayati. Ia
mengulangi permintaannya dan berkata bahwa Yayati
harus mengawini dia karena pernah memegang tangan
kanannya erat-erat. Yayati menolak. Katanya, sebagai
kesatria ia tidak dibenarkan mengawini seorang wanita
berkasta brahmana. Memang kitab-kitab suci Sastra tidak
membenarkan hal itu, tetapi sekali perkawinan seperti itu
terjadi, tak ada yang boleh membatalkannya dan perkawinan
itu sah.
Akhirnya, setelah mendapat restu dari Resi Sukra,
Yayati bersedia menikahi Dewayani. Mereka hidup berbahagia
bertahun-tahun lamanya. Sarmishta menepati janjinya.
Ia setia melayani Dewayani sebagai dayang-dayangnya,
sampai pada suatu malam diam-diam ia menemui
Yayati dan meminta pria itu mengawininya. Yayati tak
kuasa menolaknya. Diam-diam Sarmishta dijadikan
istrinya.
Ketika mengetahui hal itu, Dewayani marah sekali. Ia
mengadu kepada ayahnya. Resi Sukra berang, lalu mengutuk
Yayati menjadi orang tua ubanan sebelum waktunya
dan pria itu akan kehilangan masa mudanya.
Mengetahui dirinya dikutuk mertuanya yang sangat
sakti, Yayati takut sekali. Ia pergi menghadap Resi Sukra,
menyembah dan memohon ampun. Tetapi, Mahaguru
Sukra belum lupa akan penghinaan yang pernah diterima
anaknya.
Resi Sukra berkata, “Wahai, Tuanku Raja, engkau akan
kehilangan masa mudamu dan kemegahanmu. Kutukpastu
yang telah kulontarkan tak dapat dibatalkan. Tetapi,
engkau bisa minta tolong seseorang yang bersedia menukar
ketuaanmu dengan kemudaannya. Hal ini bisa terjadi.”
Demikianlah, sejak menerima kutukan mertuanya,
Yayati berubah menjadi lelaki tua renta yang kehilangan
keperkasaannya.

Ilmu Gaib Sanjiwini


Pada jaman dahulu kala, sering terjadi pertempuran-pertempuran
panjang dan sengit antara para dewata
dengan para raksasa. Mereka berebut ingin menguasai
ketiga dunia. Para dewata dipimpin seorang resi bernama
Wrihaspati yang sangat terkenal karena pengetahuannya
yang mendalam tentang kitab-kitab Weda, sedangkan para
raksasa dipimpin Mahaguru Sukra yang arif bijaksana.
Wrihaspati dan Sukra sama-sama ahli perang yang
sangat termasyhur. Tetapi, Sukra memiliki keunggulan
yang sangat mengerikan, yaitu ilmu gaib Sanjiwini yang
dapat menghidupkan siapa saja yang sudah mati. Jadi,
setiap kali ada raksasa mati di medan pertempuran, Sukra
dapat menghidupkannya lagi. Begitu berkali-kali, sehingga
jumlah mereka tak pernah berkurang dan mereka dapat
melanjutkan perang melawan para dewata. Akibatnya, para
dewata selalu kalah melawan para raksasa.
Akhirnya, para dewata berunding, mencari akal untuk
mengalahkan para raksasa. Diputuskanlah untuk menemui
Kacha, putra Wrihaspati, dan meminta bantuannya.
Mereka berharap Kacha bisa menawan hati Sukra dan
membujuknya agar ia diijinkan menjadi murid mahaguru
itu. Dengan menjadi murid Sukra, para dewata berharap
Kacha bisa menguasai ilmu gaib Sanjiwini, dengan cara
mulia atau cara curang, sehingga para dewata bisa terhindar
dari kekalahan terus-menerus.
Kacha menyanggupi permintaan para dewata itu. Ia lalu
pergi menghadap Mahaguru Sukra yang tinggal di istana
Raja Wrishaparwa, raja para raksasa.
Sampai di hadapan mahaguru itu, Kacha memberi
salam hormat lalu berkata, “Hamba ini cucu Resi Angiras
dan anak Resi Wrihaspati. Hamba telah bersumpah menjadi
seorang brahmacharin dan ingin menuntut ilmu di
bawah asuhan Yang Mulia Mahaguru.”
Sesuai adat, seorang guru yang bijaksana tidak boleh
menolak murid yang ingin berguru kepadanya. Maka
Mahaguru Sukra berkata, “Kacha, engkau adalah keturunan
keluarga baik-baik. Aku terima kau sebagai muridku.
Dan ingatlah, aku terima kau karena aku ingin menunjukkan
hormatku kepada Resi Wrihaspati, ayahmu.”
Demikianlah, Kacha pun menjadi murid Mahaguru
Sukra. Semua tugas kewajiban yang diberikan oleh gurunya
dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Salah satu
tugasnya adalah menghibur putri Mahaguru Sukra yang
bernama Dewayani. Mahaguru itu hanya memiliki seorang
anak. Tak heran, Dewayani menjadi tumpahan kasih
sayangnya. Semua keinginannya selalu dikabulkan.
Kacha diperintahkan menghibur Dewayani dengan
menyanyi, menari atau mengajaknya bermain. Lama
kelamaan, Kacha tertarik kepada putri itu. Tetapi, karena
ia telah bersumpah menjadi brahmacharin yang sepenuhnya
mengabdikan diri untuk belajar ilmu agama di bawah
bimbingan seorang guru dan mengamalkan segala kebajikan
hidup tanpa menikah, ia menahan diri dan berusaha
keras untuk tidak melanggar sumpahnya.
Sementara itu, para raksasa yang mengetahui bahwa
pemimpin mereka mengambil anak Wrihaspati sebagai
murid merasa cemas dan curiga. Jangan-jangan niat
Kacha tidak tulus berguru. Jangan-jangan sebenarnya
Kacha ingin mencari kesempatan untuk membujuk gurunya
agar memberikan rahasia ilmu gaib Sanjiwini. Karena
itu, mereka berunding, mencari akal untuk membunuh
Kacha.
Pada suatu hari, seperti biasa Kacha menggembalakan
sapi-sapi gurunya ke padang rumput. Tiba-tiba datang
beberapa raksasa, mereka menyergapnya lalu membunuhnya.
Mayat Kacha dicincang dan dibiarkan menjadi
makanan anjing.
Sore harinya, sapi-sapi itu pulang ke kandang tanpa
Kacha. Dewayani yang melihat hal itu merasa cemas. Ia
segera menemui ayahnya. Katanya sambil menangis
tersedu-sedu, “Matahari telah terbenam, dan pedupaan
untuk pemujaan malam Ayahanda telah dinyalakan, tetapi
Kacha belum pulang. Sapi-sapi gembalaannya sudah
pulang ke kandang. Ananda khawatir kalau-kalau sesuatu
yang buruk menimpa Kacha. Tolonglah dia, Ayah. Ananda
sangat mencintainya dan tak dapat hidup tanpa dia.”
Mendengar permohonan putri kesayangannya, Mahaguru
Sukra segera mengucapkan mantra. Dengan kesaktiannya,
ia tahu Kacha sudah mati. Karena itu, untuk
menghidupkan kembali dan memanggil pemuda itu, ia
mengucapkan mantra gaib Sanjiwini. Seketika itu Kacha
hidup kembali dan berada di hadapan mereka dengan
wajah tersenyum. Dewayani bertanya, mengapa ia terlambat
pulang. Kacha bercerita, ia diserang dan dibunuh para
raksasa ketika sedang menggembalakan sapi. Tetapi,
bagaimana ia bisa hidup kembali dan berada di hadapan
mereka, ia tidak bisa menerangkannya.
Para raksasa kecewa melihat Kacha hidup kembali.
Mereka terus memata-matai pemuda itu, mencari kesempatan
untuk membunuhnya.
Suatu hari, Kacha pergi ke hutan, mencari bunga yang
langka untuk Dewayani. Ketika sedang berada di dalam
hutan lebat, ia disergap para raksasa lalu dibunuh. Mayatnya
dicincang, dibakar, lalu abunya dibuang ke laut.
Berhari-hari Dewayani menunggu, tetapi Kacha tak
pulang-pulang. Akhirnya putri itu menghadap ayahnya
dan mengadukan hal itu kepadanya. Sekali lagi, Resi
Sukra menggunakan ilmu gaib Sanjiwini dan memanggil
Kacha. Pemuda itu hidup kembali.
Para raksasa semakin geram. Ketika ada kesempatan,
untuk ketiga kalinya mereka membunuh Kacha. Dengan
cerdik mereka membakar mayatnya, lalu mencampurkan
abunya ke dalam minuman anggur yang mereka persembahkan
kepada Resi Sukra. Tanpa curiga, pemimpin
mereka meminum anggur itu. Sore harinya, sapi-sapi itu
pulang kandang tanpa gembalanya. Sekali lagi Dewayani
menghadap ayahnya, menangis dan memohon agar
ayahnya memanggil dan menghidupkan kembali Kacha.
Resi Sukra menghibur anaknya, “Walaupun Ayah sudah
dua kali menghidupkan Kacha, rupa-rupanya para raksasa
sudah bertekad membunuhnya. Wahai, Anakku, kematian
adalah hal biasa. Sungguh tidak pantas orang yang berjiwa
besar seperti engkau menangisi kematiannya. Nikmatilah
hidupmu yang dilimpahi berkah kegembiraan, kecantikan
dan kemurahan hati serta penuh damai di dunia.”
Dewayani tak merasa terhibur oleh kata-kata ayahnya.
Ia sangat mencintai Kacha. Demikianlah, sejak dunia
tercipta, nasihat resi yang paling bijaksana pun tak pernah
bisa menghilangkan duka hati seorang wanita yang kehilangan
kekasihnya.
Dewayani berkata, “Kacha, cucu Angiras dan putra
Wrihaspati adalah pemuda yang tidak berdosa. Ia telah
menyerahkan diri untuk melayani kita. Aku mencintainya
sedalam lubuk hatiku. Tetapi sekarang ia mati dibunuh.
Hidupku menjadi hampa dan tanpa cinta. Karena itu,
wahai Ayahanda, aku akan mengikutinya.” Setelah berkata
demikian, Dewayani berpuasa, tidak makan dan tidak
minum.
Resi Sukra tak tega melihat putri kesayangannya berduka.
Ia marah kepada para raksasa yang telah membunuh
Kacha. Pembunuhan terhadap brahmana adalah
dosa terkutuk. Mereka pasti akan mendapat balasan yang
setimpal.
Sekali lagi Resi Sukra mempergunakan ilmu gaib Sanjiwini
untuk menghidupkan Kacha. Sekali lagi Kacha hidup
kembali dari anggur yang sudah masuk ke lambung sang
Mahaguru. Tetapi ia tidak bisa keluar karena berada di
tempat yang sangat aneh. Ia hanya dapat menjawab
dengan menyebutkan namanya dan mengatakan tempat ia
berada.
Mendengar itu, Resi Sukra berkata dengan berang, “Hai,
Brahmacharin, bagaimana engkau bisa masuk ke dalam
tubuhku? Apakah karena perbuatan para raksasa? Sungguh
keterlaluan. Ingin rasanya aku membunuh semua raksasa
dan menyatukan diriku dengan para dewata. Tetapi,
sebelum itu kulakukan, ceritakan dulu semuanya
kepadaku.”
Dengan susah payah, dari dalam lambung Resi Sukra,
Kacha menceritakan apa yang dialaminya.
Resi mahasakti itu menyahut, “Kini aku, Resi Sukra
yang suci, luhur budi, dan termasyhur, menjadi geram
karena ditipu dengan persembahan minuman anggur.
Karena itu, demi kebajikan dan peri kemanusiaan,
kuperingatkan bahwa kesucian dan keluhuran budi akan
meninggalkan siapa pun yang meminum anggur dengan
tidak bijaksana. Orang yang demikian akan terkutuk.
Demikian pesanku dan hal ini akan dinyatakan dalam
kitab-kitab suci sebagai larangan yang tak boleh
dilanggar.”
Setelah berkata demikian, Resi Sukra memandang
Dewayani sambil berkata, “Anakku sayang, sekarang
engkau harus memilih. Kalau kau ingin Kacha hidup
kembali, ia harus keluar dari dalam tubuhku dan itu
berarti kematian bagiku. Ia hanya bisa hidup di atas
kematianku.”
Dewayani menangis tersedu-sedu sambil berkata, “Oh
Dewata, sungguh pilihan yang tak mungkin kupilih. Aku
sangat menyayangi Ayahanda dan Kacha. Jika salah satu
dari kalian mati, aku akan mati. Aku tak sanggup hidup
tanpa kalian berdua.”
Sambil mencari jalan untuk menyelesaikan masalah
berat itu, Resi Sukra berkata kepada Kacha, “Wahai putra
Wrihaspati, sekarang aku tahu apa sesungguhnya niatmu
datang berguru kepadaku. Kau akan memperoleh apa yang
kauinginkan. Aku akan menghidupkan kau kembali demi
Dewayani dan demi dia pula aku tidak boleh mati. Satusatunya
jalan adalah mengajarkan ilmu gaib Sanjiwini
kepadamu. Dengan menguasainya, kau akan bisa menghidupkan
aku kembali meskipun tubuhku hancur setelah
mengeluarkan engkau. Berjanjilah untuk menggunakan
ilmu gaib Sanjiwini yang akan kuajarkan kepadamu untuk
menghidupkan aku kembali, agar Dewayani tidak berduka
atas kematian salah satu dari kita.”
Dari dalam lambung gurunya, Kacha mengucapkan
janjinya.
Demikianlah, Mahaguru Sukra memberikan rahasia
ilmu gaib Sanjiwini kepada Kacha. Seketika itu juga Kacha
keluar dari dalam tubuh gurunya, sementara sang Resi
langsung rubuh, wafat dengan tubuh hancur berkepingkeping.
Kacha memenuhi janjinya. Ia segera sujud di
depan jenazah gurunya dan mempergunakan ilmu gaib
Sanjiwini. Katanya, “Guru yang ikhlas membagi ilmu
kepada muridnya ibarat seorang ayah yang mengasihi
putranya. Karena aku keluar dari tubuhmu, maka aku
adalah anakmu juga.”
Beberapa tahun lamanya Kacha meneruskan hidupnya
sebagai murid Resi Sukra, sampai tiba waktunya untuk
kembali ke dunia para dewata. Ketika saat itu tiba, ia
mohon diri kepada gurunya. Sang Resi merestuinya dan
mengijinkannya pergi. Kemudian Kacha minta diri kepada
Dewayani.
Putri jelita ini dengan hormat berkata, “Wahai cucu
Angiras, kau telah menawan hatiku dengan kesucian hati,
hidupmu yang tidak bercacat, kemajuanmu dalam menuntut
ilmu, dan asal-usulmu yang agung. Sejak lama aku
mencintaimu dengan sepenuh hati, walaupun engkau tetap
teguh menjalankan sumpahmu sebagai brahmacharin.
Tetapi, sudah selayaknya sekarang engkau menerima
cintaku dan sudi membuatku bahagia dengan menikahiku.”
Kacha menjawab, “Oh, Dewayani yang suci, engkau
adalah putri mahaguruku yang selalu kusegani. Aku hidup
kembali setelah keluar dari tubuh ayahmu. Karena itu, aku
kini menjadi saudaramu seayah. Sungguh tidak pantas
jika engkau memintaku agar sudi mengawinimu.”
Dewayani berkata, “Engkau anak Wrihaspati yang patut
kuhormati dan bukan anak ayahku. Aku yang menyebabkan
kau bisa hidup kembali, karena aku mencintaimu dan
mengharapkan engkau menjadi suamiku. Tidak pantas
engkau meninggalkan aku yang tidak berdosa ini tanpa
memberiku kesempatan untuk mengabdi kepadamu.”
Kacha menjawab, “Jangan mencoba membujukku
untuk melakukan hal yang tidak benar. Engkau sungguh
jelita, dan semakin jelita dalam keadaan marah seperti
sekarang, tetapi aku adalah saudaramu. Abdikanlah
hidupmu untuk kebajikan dalam bimbingan ayahmu,
Mahaguru Sukra. Jalani hidupmu seperti dahulu. Berdoalah
dan relakan aku pergi.” Setelah berkata demikian,
dengan lembut Kacha melepaskan diri dari pegangan
Dewayani dan kembali ke dunia para dewata.
Sepeninggal Kacha, Dewayani selalu sedih dan murung.
Tak ada yang bisa menghiburnya, tidak juga Mahaguru
Sukra, ayahnya.

Amba, Ambika, dan Ambalika


Chitranggada, putra Satyawati, tewas dalam pertempuran
melawan gandarwa. Karena ia tewas dalam peperangan
tanpa memiliki anak, maka Wichitrawirya, adiknya,
dinobatkan menjadi raja menggantikannya. Tetapi, karena
waktu naik takhta dia belum dewasa, tampuk pemerintahan
untuk sementara dipegang oleh kakaknya dari lain
ibu, yaitu Dewabrata alias Bhisma, sampai dia dewasa.
Ketika Wichitrawirya telah cukup dewasa untuk menikah,
Bhisma mencarikan calon istri yang pantas bagi
adiknya itu. Ia mendengar bahwa tiga putri Raja Kasi akan
memilih calon suami menurut adat-istiadat kaum bangsawan,
yaitu dengan mengadakan sayembara. Bhisma memutuskan
mengikuti sayembara itu agar bisa memboyong
putri-putri Raja Kasi untuk adiknya.
Pada hari sayembara, di alun-alun Kerajaan Kasi berkumpul
putra-putra mahkota dari Kerajaan Kosala,
Wangsa, Pundra, Kalingga dan lain-lain. Mereka semua
berminat mempersunting putri-putri Raja Kasi yang sangat
terkenal kecantikan dan keanggunannya. Karena ada tiga
putri yang diperebutkan, sayembara itu diselenggarakan
secara besar-besaran. Meskipun datang dengan semangat
tinggi, banyak juga putra mahkota yang merasa cemas,
takut menanggung malu jika gagal memenangkan sayembara;
lebih-lebih ketika melihat Bhisma hadir di antara
mereka.
Bhisma terkenal sakti dan mahir menggunakan segala
macam senjata perang. Kecuali itu, karena kesetiaan dan
keteguhan hatinya, semua orang segan padanya.
Semula para putra mahkota menyangka Bhisma datang
hanya untuk menyaksikan jalannya sayembara karena
pangeran itu telah bersumpah takkan pernah menikah.
Tetapi, ketika mengetahui bahwa Bhisma mengikuti
sayembara, sangatlah kecut hati mereka.
Tak ada yang menyangka bahwa Bhisma datang untuk
maksud yang sama. Dan tak seorang pun tahu bahwa ia
datang demi saudaranya yang lebih muda, Wichitrawirya.
Para putra mahkota itu berbisik-bisik, membicarakan
Bhisma. Seseorang berkata, “Dia memang keturunan
Bharata yang sakti dan bijaksana. Sayang sekali, ia lupa
diri. Tak sadar bahwa sudah tua dan lupa akan sumpahnya
untuk hidup sebagai brahmacarin yang seumur
hidup tidak akan kawin. Untuk apa dia ikut sayembara
ini? Dasar pangeran tak tahu malu!”
Putri-putri Kasi yang hendak memilih calon suami
mereka sama sekali tak menghiraukan kehadiran Bhisma.
Mereka menganggapnya pemuda tua yang tidak menarik.
Mereka berbisik-bisik mengolok-olok jagoan tua itu sambil
membuang muka, tak mau memandangnya.
Bhisma, yang merasa diejek dan dipermainkan, menjadi
berang. Ditantangnya semua putra mahkota untuk berperang-
tanding dengannya. Tak ada yang berani menolak
meskipun sadar semua takkan mampu mengalahkan
kesatria tua itu. Tak ada yang mau dipermalukan di depan
putri-putri jelita idaman mereka.
Satu per satu mereka berperang-tanding melawan
Bhisma. Semua kalah. Segera setelah mengalahkan semua
putra mahkota, Bhisma menyambar ketiga putri jelita itu
dan melarikan mereka dengan keretanya yang termasyhur.
Begitu kencang laju kereta itu hingga seakan-akan mereka
terbang meninggalkan gelanggang sayembara, menuju
Hastinapura. Belum lagi jauh dari arena sayembara Kerajaan
Kasi, mereka dihadang Raja Salwa dari Kerajaan
Saubala. Raja itu menantang Bhisma untuk bertarung.
Sebenarnya, Raja Salwa sudah menjalin kasih dengan
Amba dan Amba yang jelita telah memilih Salwa sebagai
calon suaminya. Setelah perkelahian sengit, Salwa takluk.
Menyerah. Bhisma mengangkat senjata, hendak membunuh,
tetapi dicegah oleh Amba. Karena permintaan putri
itu, Bhisma urung membunuh Salwa.
Setibanya di Hastinapura, Bhisma segera mempersiapkan
pernikahan Wichitrawirya. Ketika tamu-tamu mulai
berdatangan, Amba berkata kepada Bhisma dengan nada
mencemooh, “Wahai putra Dewi Gangga yang masyhur,
Tuan pasti tahu yang terkandung dalam kitab-kitab suci
yang kita hormati dan muliakan. Seharusnya Tuan juga
tahu bahwa aku telah memilih Salwa, Raja Kerajaan
Saubala, untuk menjadi suamiku. Tuan memaksa diriku
menerima pernikahan ini. Bila Tuan mengerti akan hal ini,
bertindaklah sesuai dengan ajaran kitab suci.”
Sementara pernikahan Ambika dan Ambalika, adik-adik
Amba, dengan Wichitrawirya berlangsung dengan baik dan
penuh kebesaran, Bhisma mengantarkan Amba kepada
Raja Salwa.
Hal itu dilakukan Bhisma karena memahami maksud
putri itu dan demi menaati apa yang tertulis dalam kitab
suci. Diiringkan sejumlah pengawal kehormatan yang
pantas, diantarkannya Amba ke istana Kerajaan Saubala.
Sampai di sana, Bhisma menghadap Raja Salwa dan
menyerahkan Amba kepadanya. Segera sesudah itu,
pangeran tua itu kembali ke Hastinapura.
Dengan perasaan gembira dan mesra, Amba menceritakan
semua yang telah terjadi kepada Raja Salwa. Setelah
itu ia berkata, “Sejak semula hamba telah tetapkan hati
untuk mengabdikan diri, lahir dan batin kepada Tuanku.
Pangeran Bhisma menerima penolakan hamba dan mengantarkan
hamba ke hadapan Tuanku. Jadikanlah hamba
permaisuri Tuanku menurut ajaran kitab-kitab suci
sastra.”
Maharaja Salwa menjawab, “Bhisma telah menaklukkan
aku dan telah melarikan engkau di depan umum. Aku
merasa sangat terhina. Karena itu, aku tidak bisa menerima
engkau menjadi istriku. Sebaiknya engkau kembali
kepada Bhisma dan lakukan apa yang ia perintahkan.”
Setelah berkata demikian, Raja memanggil beberapa
pengawal dan memerintahkan mereka untuk mengawal
Amba kembali kepada Bhisma.
Sampai di Hastinapura, Amba menceritakan apa yang
telah terjadi kepada Bhisma. Pangeran tua itu kemudian
membujuk adiknya agar mau menikahi Amba. Tetapi,
Wichitrawirya tegas-tegas menolak, karena putri itu telah
memberikan hatinya kepada orang lain.
Penolakan Wichitrawirya merupakan beban berat bagi
Bhisma, karena dia sendiri telah bersumpah tidak akan
pernah menikah. Tak mungkin dia melanggar sumpahnya
sendiri. Lebih-lebih karena ia keturunan bangsawan yang
terhormat. Ia iba kepada Amba, tetapi tak kuasa berbuat
apa-apa. Beberapa kali dicobanya membujuk Wichitrawirya,
tetapi adiknya itu tetap pada pendiriannya. Tak ada
jalan lain. Ia terpaksa menasihati Amba agar kembali lagi
kepada Salwa.
Hal itu sungguh sangat berat bagi Amba. Karena tak
berani kembali ke Kerajaan Saubala, selama beberapa
waktu Amba terpaksa bersembunyi di Hastinapura. Akhirnya
dengan perasaan berat, Amba mencoba kembali kepada
Raja Salwa.
Sekali lagi, dengan suara yang keras dan tegas, Raja
Salwa menolak Amba.
Demikianlah, Amba yang jelita kemudian terpaksa melewatkan
hari-harinya dalam kemurungan. Hampir enam
tahun lamanya ia hidup tanpa cinta, penuh duka, dan
tanpa harapan. Parasnya yang segar dan jelita menjadi
layu dan kisut. Hatinya yang menderita berubah, berisi
kepahitan dan kebencian kepada Bhisma — yang menurutnya
telah menghancurkan hidupnya. Sia-sia ia berusaha
mencari seorang kesatria tangguh untuk bertarung melawan
Bhisma dan kalau bisa ... sekaligus membunuh pangeran
tua itu. Tak seorang kesatria pun berani bertarung
dengan Bhisma yang termasyhur sakti dan perkasa.
Akhirnya, Amba pergi ke hutan dan bertapa dengan
sangat tekun. Ia memohon kepada Dewa Subrahmanya
agar membantunya menghancurkan Bhisma. Dewa itu
menghadiahkan seuntai kalung bunga teratai segar yang
sudah diberi restu-pastu. Orang yang berkalung bunga
teratai segar itu akan menjadi sakti dan dengan kesaktiannya
ia akan mampu mengalahkan Bhisma.
Amba menerima kalung bunga teratai itu. Kemudian
sekali lagi ia mencari seorang kesatria yang mau memakai
kalung bunga hadiah Dewa Subrahmanya, dewa sakti
berwajah enam. Sayang sekali, tak seorang kesatria pun
mau menerimanya. Tak seorang kesatria pun berani melawan
Bhisma yang termasyhur kesaktiannya. Kemudian
Amba menghadap Raja Drupada. Raja ini juga menolaknya.
Akhirnya, Amba meninggalkan kalung bunga itu di
pintu gerbang istana Raja Drupada lalu pergi mengembara
ke dalam hutan.
Kepada beberapa pertapa yang ditemuinya di hutan,
Amba menceritakan pengalamannya yang menyedihkan
itu. Mereka menasihatinya agar menghadap Parasurama.
Amba menuruti nasihat mereka, ia pergi menghadap
Parasurama.
Mendengar cerita Amba, Parasurama merasa kasihan.
Ia berkata, “Wahai anakku yang jelita, apa yang kaukehendaki
sekarang? Aku dapat meminta Salwa untuk
mengawinimu jika engkau mau.”
Amba menjawab dengan hati teguh, “Tidak, saya tidak
menginginkan itu lagi. Saya tak punya hasrat lagi untuk
menikah atau mencari kebahagiaan. Satu-satunya yang
saya inginkan dalam hidup ini adalah membalas dendam
kepada Bhisma. Saya bersumpah, yang saya inginkan tak
lain hanyalah kematian Bhisma.”
Parasurama mendengarkan kata-kata Amba dengan
penuh perhatian. Ia sendiri amat membenci golongan kesatria.
Karena itu, ia memutuskan untuk menolong Amba
dan bertarung melawan Bhisma. Pertempuran mereka
sangat hebat dan berlangsung lama. Dua-duanya setara
kesaktian dan kemahirannya dalam olah senjata. Tetapi,
akhirnya Parasurama harus mengakui keunggulan
Bhisma.
Setelah dikalahkan Bhisma, ia menemui Amba dan
berkata, “Aku sudah berusaha sekuat tenaga untuk
menaklukkan dan menghancurkan Bhisma, tetapi aku
kalah. Satu-satunya jalan bagimu adalah kembali kepadanya
dan menyerahkan nasibmu kepadanya. Hanya itu
yang dapat kaulakukan.”
Dengan membawa duka, sakit hati, dendam, dan
kebencian, akhirnya Amba pergi ke kaki Gunung Himalaya
untuk bertapa. Dengan khusyuk ia bertapa dan terusmenerus
melakukan penyucian diri agar dapat menerima
karunia Batara Shiwa karena di dunia tak ada lagi
manusia yang bisa menolongnya.
Setelah lama bertapa dengan sangat khusyuk, Batara
Shiwa muncul di hadapannya dan memberinya restu:
‘dalam inkarnasinya yang akan datang, Amba dapat
membunuh Bhisma’.
Amba tidak sabar menunggu hingga masa inkarnasinya
yang akan datang. Karena itu, ia membuat api unggun
besar dan melakukan satya, mengorbankan diri dengan
terjun ke dalam api yang berkobar-kobar. Dengan satya,
badannya akan hangus terbakar.
Atas pertolongan Batara Shiwa, Amba berinkarnasi,
terlahir kembali sebagai putri Raja Drupada. Ajaib!
Beberapa tahun kemudian ia menemukan kalung bunga
teratai yang dahulu ia gantungkan di pintu gerbang istana
Raja Drupada. Kalung bunga itu masih elok dan segar,
seakan-akan tak pernah disentuh orang. Maka dikalungkanlah
untaian bunga itu di lehernya. Melihat perbuatannya
yang gegabah itu, Raja Drupada menjadi cemas karena
ingat bagaimana dahulu Amba mengalungkan untaian
bunga itu di situ sebelum meninggalkan istana Hastinapura
dengan hati penuh dendam. Putri yang mendendam
itu kemudian bertapa di hutan yang lengang dan sunyi.
Begitulah, putri Raja Drupada mengambil untaian
bunga itu dan mengalungkannya di lehernya. Ajaib! Lama
kelamaan, kelamin putri Raja Drupada itu berubah. Ia
menjadi seorang laki-laki dan kemudian termasyhur
dengan nama Srikandi, artinya “pahlawan perang.”
Kelak dalam perang besar Bharatayuda, Srikandi
bertempur di depan kereta Arjuna melawan Bhisma. Dalam
perang di padang Kurukshetra itu, Bhisma tahu benar
bahwa Amba telah lahir kembali dalam wujud Srikandi,
yakni perempuan yang berubah menjadi laki-laki dan
karena penampilannya yang tetap seperti wanita, menurut
tata krama, aturan perang dan sumpahnya sendiri, dalam
keadaan apa pun Bhisma tidak boleh melawannya. Dalam
keadaan apa pun Bhisma tidak akan bertempur melawan
Srikandi yang termasyhur dan gagah berani.

Sabtu, 17 Januari 2015

Dewabrata Bersumpah Sebagai Bhisma


Dengan hati bahagia Raja Santanu menyambut putranya
dan membawanya ke istana. Anak yang dikelilingi
aura keagungan dan menunjukkan watak-watak kesatria
sejati itu dinobatkannya menjadi putra mahkota. Dewabrata
diangkat sebagai yuwaraja atau putra mahkota yang
bertugas mendampingi Raja dalam memerintah. Dia pula
yang akan mewarisi kerajaan ayahnya, kelak setelah ayahnya
mengundurkan diri dengan bijaksana.
Empat tahun berlalu. Pada suatu hari, Raja Santanu
berjalan-jalan di tepi Sungai Yamuna. Tiba-tiba angin
berhembus dan terciumlah olehnya keharuman yang
memenuhi udara. Raja mencari sumber keharuman yang
suci itu dan melihat seorang gadis cantik jelita, secantik
bidadari kahyangan, duduk melamun di tepi sungai.
Sejak Dewi Gangga meninggalkannya, Raja Santanu
selalu berusaha menahan hasrat dan hawa nafsunya dan
berusaha hidup dengan sepenuhnya mengutamakan
kebajikan. Tetapi, kecantikan wajah dan keharuman tubuh
gadis itu membuatnya lupa akan tapabrata-nya. Hatinya
bergejolak, dilanda cinta asmara yang meluap-luap. Raja
Santanu meminang gadis itu agar mau menjadi permaisurinya.
“Wahai gadis jelita, siapakah namamu dan dari mana
asalmu? Aku terpesona oleh kecantikanmu. Maukah engkau
kupersunting menjadi istriku?” kata sang Raja.
Berkatalah sang juwita, “Daulat Tuanku, nama hamba
Satyawati. Hamba seorang penangkap ikan. Ayah hamba
kepala kampung nelayan di sini. Hamba persilakan Paduka
membicarakan permintaan itu dengan ayah hamba. Semoga
dia menyetujuinya.”
Satyawati mengantarkan sang Raja ke rumah orangtuanya
di kampung nelayan yang agak jauh dari tempatnya
mencari ikan. Sampai di rumah, sang Raja dipersilakan
untuk mengutarakan niatnya.
Kata Raja Santanu, “Wahai Bapak nelayan, aku
temukan putrimu yang jelita ini di tepi sungai sedang
mencari ikan. Aku sangat terpesona oleh kecantikan dan
tutur katanya yang lembut. Aku ingin mempersunting dia
menjadi istriku dan memboyongnya ke istanaku.”
Ayah gadis itu orang yang cerdik. Ia menyembah Raja
Santanu dan berkata, “Daulat Tuanku. Memang sudah
waktunya anak hamba menikah dengan seorang lelaki,
seperti gadis-gadis lain. Paduka Tuanku adalah raja yang
mulia dan berkedudukan jauh di atas dia. Hamba tidak
keberatan jika anak hamba Paduka persunting. Tetapi,
sebelum Satyawati hamba serahkan, Paduka harus
berjanji.”
Kata Raja Santanu, “Apa pun syarat yang kauajukan,
aku akan memenuhinya.”
Kepala kampung nelayan itu memohon, “Jika anak
hamba melahirkan seorang bayi lelaki, Paduka harus
menobatkannya menjadi putra mahkota dan kelak setelah
Paduka mengundurkan diri, Paduka harus mewariskan
kerajaan ini kepadanya.”
Meskipun tergila-gila pada anak gadis kepala kampung
nelayan itu, namun Raja Santanu tak dapat menyanggupi
persyaratan itu. Ia sadar, jika dia memenuhi semua syarat
yang diajukan ayah si gadis, berarti ia harus menyingkirkan
Dewabrata yang sudah dinobatkannya menjadi yuwaraja
dan berhak atas takhta kerajaannya kelak. Terlalu
besar yang harus ia pertaruhkan untuk mempersunting
Satyawati. Sungguh tidak pantas dan memalukan, jika ia
menuruti kata hatinya. Setelah bergulat dengan perasaannya,
Raja Santanu kembali ke istananya di Hastinapura.
Perasaannya campur aduk, sedih karena mungkin harus
menyingkirkan Dewabrata, senang karena sedang jatuh
cinta. Tetapi, sang Raja menyimpan rahasianya rapatrapat.
Tak seorang pun diberi tahu akan hal itu. Raja lebih
banyak mengurung diri di ruang peraduannya dan
melamun. Tugas-tugas kerajaan lebih banyak dilakukan
oleh Dewabrata.
Mengetahui hal itu, suatu hari Dewabrata bertanya
kepada ayahnya, “Ayahanda mempunyai segala sesuatu
yang mungkin diinginkan oleh seorang manusia. Tetapi
mengapa Ayahanda kelihatan begitu murung? Apa sebabnya
Ayahanda berduka demikian rupa? Wajah Paduka
seakan-akan menyimpan rahasia dan menanggung beban
berat.”
Jawab Baginda, “Anakku sayang, apa yang kaukatakan
itu benar. Sesungguhnya Ayahanda sedang tersiksa oleh
perasaan duka dan cemas. Engkau putraku satu-satunya.
Engkau selalu sibuk mengurus kerajaan dan melatih para
prajurit agar mahir berperang. Hidup di dunia ini tidak
pasti dan tidak kekal. Perang dan damai silih berganti
tiada henti. Jika kau mati tanpa punya anak, maka garis
keturunan kita akan putus, habis.
“Sudah tentu seorang anak —apalagi anak tunggal—
sama berharganya dengan seratus anak. Para tua-tua
cendekia yang mahir akan makna kitab-kitab suci berkata,
‘Di mayapada atau di dunia ini, punya anak hanya seorang
sama dengan tidak punya anak sama sekali’. Sungguh
sayang jika kelangsungan hidup keluarga dan keturunan
kita hanya bergantung pada seorang saja. Sebenarnya,
Ayahanda memikirkan kelangsungan garis keluarga dan
keturunan kita sampai beratus-ratus tahun kelak. Itulah
yang membuatku gelisah dan berduka.”
Raja Santanu berusaha keras untuk menyembunyikan
isi hatinya yang sesungguhnya karena ia malu pada putranya.
Dewabrata yang bijaksana dan setia kepada ayahnya
menyadari hal itu. Ia tidak mau mendesak agar ayahnya
mengungkapkan hal-hal yang dirahasiakannya dan menyebabkannya
berlaku seperti itu, selalu murung dan gelisah.
Dewabrata kemudian bertanya kepada sais kereta
ayahnya. Barulah ia tahu bahwa belum lama ini ayahnya
berkenalan dengan seorang gadis cantik penangkap ikan di
tepi Sungai Yamuna, bahwa ayahnya kemudian meminang
gadis itu, dan bahwa ayahnya tak sanggup memenuhi
syarat-syarat yang diajukan ayah si gadis.
Mendengar itu, Dewabrata memutuskan untuk menemui
kepala kampung nelayan itu dan meminang putrinya
atas nama ayahnya.
Kepala kampung nelayan itu berpegang teguh pada
pendiriannya, “Wahai sang Putra Mahkota, sesungguhnya
anak hamba pantas menjadi permaisuri ayahanda Paduka.
Karena itu, sungguh wajar jika kelak anaknya dinobatkan
menjadi raja, menggantikan ayahanda Paduka. Apakah
Tuanku sependapat dengan hamba?
“Hamba tahu, Paduka telah dinobatkan menjadi yuwaraja
dan dengan sendirinya kelak akan menggantikan
beliau. Demi anak hamba, jangan sampai hal itu terjadi.”
Kata Dewabrata, “Baiklah. Ingat baik-baik kata-kataku
ini: Jika anakmu melahirkan seorang anak lelaki, anak itu
kelak akan dinobatkan menjadi raja. Aku rela turun takhta
demi keinginan ayahanda Raja Santanu untuk melanjutkan
keturunannya.”
Mendengar kata-kata Dewabrata, nelayan itu bersujud,
“Wahai Putra Mahkota yang paling bijaksana di antara
semua keturunan Bharata, apa yang Tuan lakukan
sungguh berani dan belum pernah dilakukan orang
sebelumnya. Tuanku seorang pahlawan besar. Silakan
Tuanku membawa anak hamba untuk dipersembahkan
kepada ayahanda Paduka.
“Hamba yakin, Tuanku pasti akan memenuhi janji.
Tetapi, apa yang dapat hamba pakai sebagai pegangan
yang menguatkan harapan hamba? Bagaimana putraputra
yang lahir sebagai keturunan Tuanku akan rela
menyerahkan hak-hak mereka sebagai ahli waris kerajaan?
Putra-putra Tuanku pasti akan menjadi pahlawanpahlawan
besar seperti Tuanku sendiri. Tuanku pasti sulit
menjelaskannya kepada mereka. Pasti sulit menghalangi
keinginan mereka untuk kembali memiliki kerajaan —
entah dengan kekerasan atau secara baik-baik. Inilah
keraguan hati hamba yang selalu membuat hamba cemas.”
Mendengar pertanyaan yang sangat sulit dijawab itu,
Dewabrata dengan penuh niat suci memutuskan untuk
melepaskan diri dari segala sesuatu yang bersifat duniawi,
demi ayahnya.
Kemudian ia bersumpah di hadapan ayah si gadis
penangkap ikan, “Aku berjanji tidak akan kawin. Dengan
demikian, aku takkan pernah punya anak. Seluruh hidupku
akan kupersembahkan untuk berbakti pada rakyat dan
kerajaan dan untuk kesucian.”
Ketika Dewabrata mengucapkan sumpah sucinya,
berguguranlah kembang-kembang harum suci menaburi
kepalanya, sementara di angkasa bergema suara merdu,
“Bhisma... bhisma... bhisma....”
Kata bhisma menyatakan bahwa seseorang telah mengucapkan
sumpah yang berat dan suci dan berjanji akan
benar-benar melaksanakannya. Dewabrata memenuhi
syarat-syarat itu.
Sejak itu, Dewabrata melepas gelar yuwaraja dan tidak
lagi berkedudukan sebagai putra mahkota. Kemudian dia
digelari dengan nama Bhisma, sebagai penghormatan akan
kesetiaannya kepada ayahnya dan keteguhan hatinya yang
suci.
Demikianlah, Dewabrata putra Dewi Gangga memboyong
Satyawati ke Hastinapura untuk diserahkan kepada
ayahnya, Baginda Raja Santanu.
Dari perkawinannya dengan Satyawati, Raja Santanu
mempunyai dua putra, Chitranggada dan Wichitrawirya.
Chitranggada meninggal lebih dulu daripada adiknya,
tanpa meninggalkan seorang putra pun; sedangkan Wichitrawirya
mempunyai dua putra, yaitu Dritarastra dan
Pandu dari dua permaisurinya, Ambika dan Ambalika.
Dritarastra berputra seratus orang; mereka dikenal
sebagai Kaurawa. Pandu berputra lima orang, mereka
termasyhur sebagai Pandawa. Adapun Bhisma, sebagai
kakek-paman dan sesepuh anak-cucu Raja Santanu,
hidup sampai usia tua, disegani dan dihormati oleh
seluruh sanak keluarganya. Kelak Bhisma meninggal
sebagai senapati dalam perang besar Bharatayuda di
padang Kurukshetra.

Dewabrata, Putra Raja Santanu dan Dewi Gangga

Wahai Dewiku, maukah engkau menjadi istriku? Aku
tidak peduli siapa pun engkau. Aku terpesona oleh
kecantikanmu dan jatuh cinta padamu. Siapakah engkau
dan dari manakah asalmu?” kata Raja Santanu kepada
seorang gadis jelita yang berdiri di hadapannya.
Sesungguhnya gadis itu adalah Dewi Gangga, bidadari
kahyangan yang turun ke bumi dalam wujud manusia.
Parasnya yang cantik, lekuk tubuhnya yang indah, dan
tindak-tanduknya yang halus membuat Raja Santanu
terpikat dan bangkit gairah asmaranya.
Sang Raja berjanji akan mempersembahkan seluruh
cinta, kekayaan, dan kerajaannya —bahkan seluruh
hidupnya— kepada gadis jelita itu.
Tanpa curiga atas pertanyaan Raja Santanu, gadis itu
menjawab, “Wahai Raja perkasa, hamba bersedia menjadi
istri Paduka asalkan Paduka berjanji memenuhi syaratsyarat
hamba.”
“Apakah itu?” tanya Raja Santanu tak sabar.
“Pertama, jika hamba sudah menjadi istri Paduka, tak
seorang pun, tidak juga Paduka, boleh bertanya siapa
sesungguhnya hamba dan dari mana asal-usul hamba.
Kedua, apa pun yang hamba lakukan —baik atau buruk,
benar atau salah, wajar atau ganjil— Paduka tidak boleh
menghalang-halangi. Ketiga, Tuanku tidak boleh marah
kepada hamba — dengan alasan apa pun. Keempat, Paduka
tidak boleh mengatakan sesuatu yang membuat pera-
saan hamba tidak enak.
“Begitu Tuanku melanggar syarat-syarat itu —walau
hanya satu— hamba akan meninggalkan Tuanku saat itu
juga. Apakah Tuanku setuju dan bersedia berjanji untuk
tidak melanggarnya?”
Tanpa berpikir panjang, Raja Santanu yang sedang
dimabuk asmara langsung bersumpah akan memenuhi
semua syarat yang dikatakan si gadis jelita.
Demikianlah, tanpa mengenal siapa namanya dan tanpa
mengetahui dari mana asal-usulnya, Raja Santanu mempersunting
gadis jelita yang ditemukannya di tepi Sungai
Gangga. Dibawanya gadis itu ke istana dan dinobatkannya
menjadi permaisurinya.
Hari demi hari berlalu. Raja Santanu semakin mencintai
permaisurinya yang jelita, lebih-lebih karena selain cantik,
permaisurinya itu sangat berbakti kepadanya dan halus
tutur katanya. Kebahagiaan Sang Raja semakin lengkap
ketika tahu permaisurinya mengandung.
Sembilan bulan mereka lewatkan dengan penuh
bahagia. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat dan tibalah
saatnya Dewi Gangga melahirkan. Sang Dewi pamit kepada
suaminya, mengatakan bahwa dia akan pergi menyendiri
dan melahirkan di tepi Sungai Gangga. Dia tak mau
ditemani siapa pun, tidak juga sang Raja.
Maka pergilah Dewi Gangga seorang diri. Sampai di tepi
sungai, dia mencari tempat yang teduh dan terlindung
untuk melahirkan. Bayi yang dilahirkannya langsung
dibuangnya ke sungai. Setelah membersihkan diri, sang
Dewi kembali ke istana dengan wajah berseri-seri, seolaholah
tak terjadi apa-apa.
Raja Santanu menyambutnya dengan penuh harap.
Hatinya bahagia akan menyambut sang bayi, buah kasihnya
dengan permaisuri yang dicintainya. Tetapi, betapa
kecewanya Raja melihat Dewi Gangga datang tanpa sang
bayi. Perasaan Baginda campur aduk. Heran, melihat istrinya
kembali tanpa sang bayi. Cemas, memikirkan nasib
sang bayi. Murka, karena permaisurinya tampak tenang
dan tidak merasa bersalah. Raja merasa berdosa, karena
tak kuasa berbuat apa pun kecuali diam seribu bahasa.
Tak berani bertanya. Tak berani melanggar sumpah yang
telah diucapkannya.
Raja Santanu, yang terlanjur mencintai dan terpesona
oleh kecantikan permaisurinya, tak berani bertanya
sepatah kata pun. Disambutnya sang Dewi dengan mesra,
seakan-akan tak terjadi apa-apa. Mereka melanjutkan
kehidupan seperti biasa.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan. Dewi
Gangga kembali hamil dan ketika tiba saatnya melahirkan,
sekali lagi dia mohon diri hendak menyepi di tepi Sungai
Gangga. Syarat yang diajukannya tetap sama: tak seorang
pun boleh mengikutinya.
Hal yang sama terulang. Sang Dewi kembali ke istana
tanpa menggendong bayi. Sang Raja, dengan perasaan tertekan,
menyambut istrinya seolah-olah tak terjadi apa-apa.
Demikianlah, kejadian itu berulang sampai tujuh kali.
Tetapi, pada kehamilan yang kedelapan, Raja Santanu tak
kuasa menahan diri lagi. Sudah lama ia bertanya-tanya
dalam hati, siapa dan dari mana asal perempuan kejam
yang menjadi istrinya itu. Di mana semua anak yang telah
dilahirkannya? Sungguh kejam ibu yang menelantarkan
bayi-bayinya.
Diam-diam Raja membuntuti istrinya ke tepi Sungai
Gangga. Alangkah terkejutnya Baginda melihat sang Dewi
mengangkat bayi yang baru dilahirkannya dan siap menceburkannya
ke dalam sungai. Tanpa berpikir panjang dan
lupa akan sumpahnya, Baginda berteriak lantang, “Hentikan!
Ini pembunuhan kejam! Rupanya kau tega membunuh
bayi-bayimu yang tidak berdosa!” Sambil berteriak
demikian, Raja mencengkeram tangan Dewi Gangga, menahannya
agar tidak melaksanakan perbuatan terkutuk itu.
“Wahai, Raja yang Agung! Kau telah melanggar janjimu
padaku karena hati dan perasaanmu telah tertambat pada
bayi ini. Itu artinya, engkau tidak menginginkan aku lagi.
Baiklah, aku tidak akan membunuh bayi ini! Tetapi
sebelum aku pergi dan sebelum engkau menyimpulkan
sesuatu tentang aku, dengarkanlah ceritaku ini.
Aku adalah bidadari yang dipaksa memainkan lakon
duka ini karena sumpah Resi Wasistha. Sesungguhnya
aku ini Batari Gangga yang dipuja para dewa dan manusia.
Resi Wasistha telah menimpakan kutuk-pastu kepada
delapan wasu yang akan terpaksa lahir ke bumi ini. Para
wasu itu kemudian memohon agar aku bersedia menjadi
ibu mereka. Dengan perkenanmu, Raja Santanu, aku
melahirkan mereka ke dunia, sebagai anak-anakmu.
Sebagai balas budi karena telah menolong mereka, kelak
engkau akan mencapai tempat yang mulia tinggi di alam
baka.
Sekarang, aku akan membawa bayi ini dan mengasuhnya
sampai dia cukup besar dan tiba waktunya untuk
kuserahkan kembali kepadamu. Anak ini akan menjadi
lambang dan kenangan atas cinta kita berdua.”
Setelah berkata demikian, Batari Gangga menghilang
bersama bayinya. Kelak, bayi itu dikenal dengan nama
Bhisma dan menjadi kesatria sakti yang termasyhur.
***
Terkisahlah bagaimana asal mulanya hingga para wasu itu
menerima kutuk-pastu dari Resi Wasistha.
Pada suatu hari, kedelapan wasu itu berjalan-jalan di
pegunungan bersama istri-istri mereka. Di pegunungan itu
terdapat pertapaan Resi Wasistha. Mereka masuk ke
pertapaan itu, tetapi sang Resi tidak ada. Di pelatarannya,
seorang wasu melihat Nandini, sapi kepunyaan sang Resi,
sedang makan rumput. Nandini tampak indah, sehat dan
menawan.
Istri-istri para wasu itu terpesona oleh keelokan
Nandini. Salah seorang dari mereka meminta suaminya
menangkap sapi itu.
Suaminya berkata, “Apa gunanya sapi itu bagi kita para
Dewa? Nandini adalah kepunyaan Resi Wasistha yang
menguasai daerah ini. Karena kesaktian sang Resi,
susunya akan membuat orang yang meminumnya hidup
abadi. Tapi, apa gunanya bagi kita karena sebagai dewa
kita sudah ditakdirkan hidup abadi? Janganlah kita
serakah. Biarkan sapi itu tenang merumput. Lagi pula,
kalau celaka kita bisa kena kutuk-pastu dan murka Resi
Wasistha — hanya karena menuruti hasrat dan kesenangan
belaka.”
Tetapi istrinya tak mengindahkan hal itu. Ia berkata,
“Aku punya teman yang sangat kukasihi. Dia manusia
biasa. Aku ingin memberikan susu Nandini kepadanya
agar ia bisa hidup abadi. Demi dialah aku memintamu
menangkap Nandini. Sebelum Resi Wasistha kembali ke
pertapaan ini, kita sudah pergi jauh dari sini sambil
membawa sapi itu. Lakukanlah demi keinginanku, karena
permintaanku ini sangat berharga bagiku.”
Akhirnya, suaminya menurut. Kedelapan wasu itu
bersama-sama menangkap Nandini dan anaknya, lalu
melarikannya jauh-jauh.
Ketika Resi Wasistha kembali ke pertapaan, Nandini
dan anaknya tak dilihatnya. Sapi kesayangannya itu hilang
bersama seekor anaknya. Sapi yang selama ini memberinya
hidup dan tak dapat dipisahkan kegunaannya dalam
upacara persembahan setiap hari.
Berkat kekuatan yoganya, sang Resi mengetahui apa
yang telah terjadi. Alangkah murkanya dia. Dengan lantang
ia mengucapkan kutuk-pastu, mengutuk para wasu.
Karena kutukan itu, para wasu akan terlahir ke dunia dan
hidup sebagai manusia yang menderita. Itulah hukuman
bagi mereka yang telah merampas satu-satunya harta
berharga miliknya.
Ketika para wasu tahu bahwa mereka kena kutukpastu,
mereka sangat menyesal. Tapi... penyesalan selalu
datang terlambat. Segera mereka kembali ke pertapaan
Resi Wasistha, mengembalikan Nandini dan anaknya, lalu
bersimpuh di depan sang Resi, memohon ampun atas dosa
mereka.
Resi Wasistha berkata, “Kutuk-pastu telah terucapkan
dan akan berlaku pada waktunya. Wasu yang melarikan
sapiku akan hidup lama di dunia dalam kemewahan dan
kesenangan duniawi, tetapi wasu-wasu lain akan terlepas
dari kutuk ini segera setelah dilahirkan sebagai manusia.
Aku tak bisa menarik kutukanku, tetapi aku bisa melunakkannya.”
Kemudian Resi Wasistha bersemadi. Diatur napasnya,
ditenangkan pikirannya, dan diredakan amarahnya.
Sesungguhnya, seorang resi yang sedang ber-tapabrata
memang bisa memperoleh kesaktian untuk mengutukpastu.
Tetapi, setiap kali ia menggunakan kesaktiannya
untuk melontarkan kutuk-pastu, derajat kesucian yang
telah berhasil dicapainya akan berkurang.
Para wasu merasa lega karena ada kemungkinan
kutukan itu akan dilunakkan. Kemudian pergilah mereka
menghadap Dewi Gangga dan memohon, “Kami datang
memujamu, Batari. Kami mohon, sudilah kiranya Batari
menjadi ibu kami. Kami mohon agar Batari bersedia turun
ke mayapada dan menikah dengan seorang raja. Kelak,
satu per satu dari kami akan terlahir lewat rahim Paduka.
Dan, segera setelah kami lahir, buanglah kami ke dalam
sungai agar kami terbebas dari kutuk-pastu.”
Dewi Gangga mengabulkan permohonan mereka. Ia
turun ke bumi, di tepi Sungai Gangga. Di sana ia bertemu
dengan Raja Santanu yang kemudian menyuntingnya
menjadi permaisurinya.
***
Kembali ke kisah Dewi Gangga yang meninggalkan Raja
Santanu. Sang Dewi menghilang bersama bayinya yang
kedelapan dan tidak pernah muncul kembali. Sejak itu,
sang Raja meninggalkan kesenangan duniawi dan
memerintah kerajaannya dengan lebih bijaksana serta
didasari semangat kerokhanian.
Pada suatu hari, Raja Santanu berjalan-jalan di tepi
Sungai Gangga. Ia melamun, mengenangkan saat-saat pertemuannya
dengan Dewi Gangga. Sungguh kenangan yang
sangat indah namun meninggalkan kepedihan di hati.
Kemudian dia melihat seorang anak laki-laki yang dikelilingi
aura kemegahan dan keagungan dari Dewendra, raja
dari segala dewa dan batara, anak kecil yang sedang tumbuh
menjadi remaja. Anak itu sedang bermain panah.
Berkali-kali ia melepas anak panah-anak panah dari
busurnya, mengarahkannya ke seberang Sungai Gangga.
Tak terlihat siapa-siapa di dekatnya. Begitu pula di
seberang sungai. Raja Santanu takjub dan terharu melihat
ketampanan dan ketangkasan anak itu. Raja mendekati
anak itu, ingin bertanya padanya. Tetapi... tiba-tiba dia
melihat Dewi Gangga muncul di hadapannya.
Dewi Gangga berkata dengan lemah lembut, “Wahai,
Paduka Raja, inilah anak kita yang kedelapan. Dia kunamai
Dewabrata dan kuasuh hingga mahir berolah senjata,
menguasai ilmu perang dan memiliki kesaktian yang setara
dengan kesaktian Parasurama. Ia telah mempelajari Weda
dan falsafah Wedanta dari Resi Wasistha. Kecuali itu, ia
juga menguasai kesenian, kebudayaan dan ilmu gaib Sanjiwini
yang dikuasai Sukra. Sambutlah anak ini. Terimalah
dan asuhlah dalam istanamu. Kelak dia akan menjadi
kesatria besar, ahli siasat perang dan senapati agung.”
***