Pada suatu hari Raja Dushmanta yang
tampan dan
gagah perkasa pergi berburu bersama
balatentaranya
yang kuat dan bersenjata lengkap.
Setelah berjalan beberapa
lama, tibalah mereka di hutan lebat
dengan pohonnya
yang besar-besar. Tanah di hutan
itu berbatu-batu, sebatang
air pun tak tampak di sana. Macan,
singa, gajah,
banteng, badak dan binatang buas
lainnya berkeliaran.
Raja Dushmanta dan balatentaranya
memburu gajah. Raja
memerintahkan balatentaranya untuk
mengumpulkan
hasil buruan yang sudah mati.
Tetapi, gajah-gajah yang
terluka dan belum mati mengamuk
menyerang balatentara
Raja. Korban berjatuhan. Ada
prajurit yang mati dililit
belalai, ditusuk gading, atau
diinjak-injak gajah. Mereka
yang selamat terus memburu
binatang-binatang itu hingga
mereka lari cerai-berai masuk ke
hutan yang lebih lebat.
Setelah puas berburu, Raja
Dushmanta dan balatentaranya
meneruskan Perjalanan. Mereka
menyeberangi
padang rumput yang tandus dan
sangat luas. Hamparan
rumput terbentang sampai ke kaki
langit. Setelah
menempuh perjalanan beberapa hari,
mereka sampai di
tepi hutan lain. Penduduk desa di
tepi hutan itu berkata,
di hutan itu ada pertapaan Resi
Kanwa, seorang keturunan
Kasyapa yang termasyhur. Raja
Dushmanta memutuskan
untuk berhenti berburu dan
mengunjungi Resi Kanwa.
Ia menyuruh balatentaranya
menunggu, sementara ia
masuk ke dalam hutan diiringkan
beberapa pengiring. Ia
berjalan menembus pepohonan yang
tidak terlalu lebat,
sampai ke tepian sungai kecil yang
jernih airnya. Di tepi
sungai itulah terletak pertapaan
Resi Kanwa. Pertapaan itu
tampak bersih dan asri. Bunga-bunga
aneka warna mekar
harum semerbak menyemarakkan
pelatarannya. Di luar
pertapaan, sampai jauh ke dalam
hutan, tampak
bermacam-macam pohon yang dahannya
sarat dengan
buah-buah ranum yang menerbitkan
liur. Suasana di situ
sungguh teduh dan tenang.
Sampai di gerbang pertapaan, Raja
memerintahkan
semua pengiringnya menunggu.
Sendirian ia masuk ke
halaman pertapaan. Di sana ia tidak
menemukan siapasiapa,
kecuali seorang gadis cantik yang
mengenakan
pakaian pertapa.
Setelah menyampaikan penghormatan
selamat datang,
gadis cantik itu bertanya, “Nama
hamba Syakuntala. Apa
yang dapat hamba lakukan untuk
Tuanku? Hamba
menanti sabda Paduka.”
Raja Dushmanta menjawab, “Aku
terpesona oleh kecantikanmu,
wahai putri jelita. Di manakah Resi
Kanwa yang
termasyhur itu?”
Syakuntala menjawab, “Bapa hamba
sedang pergi
memetik buah-buahan. Kalau Tuanku
sudi menunggu
sebentar, Tuanku bisa menemuinya
setelah beliau kembali
nanti.”
Sambil memandangi wajah ayu
Syakuntala, Raja Dushmanta
bertanya, “Siapakah sebenarnya
engkau putri jelita?
Putri siapakah engkau dan mengapa
engkau tinggal di
hutan ini? Wahai, putri jelita,
hatiku telah tercuri olehmu
pada pandangan pertama.”
Syakuntala menjawab sambil
tersenyum, “Oh, Tuanku,
hamba adalah anak Resi Kanwa.”
Mendengar jawaban itu, Raja
Dushmanta tercengang
dan bertanya lagi, “Resi yang
sangat dihormati di jagad ini
telah mengumbar nafsu birahinya?
Jika orang biasa
berniat melaksanakan dharma, bisa
saja dia lalai. Tetapi,
seorang resi yang suci telah
bersumpah tidak akan
membiarkan gejolak nafsu
menjerumuskannya. Wahai
putri cantik, bagaimana mungkin
Tuan ini anak Resi
Kanwa? Maafkan aku karena ragu.
Jawablah dan hapuslah
keraguanku ini.”
Syakuntala berkata, “Baiklah, akan
hamba ceritakan
asal-usul hamba sebagaimana yang
Bapa Resi ceritakan
kepada seorang pertapa pengembara
yang datang menghadap
dan bertanya tentang diri hamba.
Begini ceritanya...
‘Adalah seorang pria sakti bernama
Wiswamitra yang
tidak puas akan kesaktiannya. Untuk
membuat dirinya
semakin sakti, dia terus-menerus
bertapa dengan khusyuk.
Begitu kuat tapanya, hingga Batara
Indra ketakutan.
Batara Indra tahu, jika tapa
Wiswamitra berhasil, pria itu
akan mampu menggulingkannya dari
takhtanya di
Indraloka atau kahyangan. Untuk
menggagalkan tapa
Wismamitra, Batara Indra memanggil
Dewi Menaka dan
diperintahkannya bidadari itu untuk
menggodanya.
‘Dewi Menaka berkata, “Paduka
Batara, Wiswamitra
adalah seorang suci yang sangat
sakti dan berkuasa. Ia
juga sangat gampang marah.
Kekuatan, ketekunan dan
dendam jiwanya yang teramat keras
sudah membuat
Paduka Batara khawatir. Apalagi
hamba, hamba takut
menghadapinya. Dialah yang membuat
Wasistha menderita
kesedihan yang mendalam karena
melihat anak-anaknya
mati sebelum dewasa. Dia dilahirkan
sebagai kesatria,
tetapi karena kebajikan dharma-nya
dan kesaktiannya
yang mendalam dia menjadi
brahmana.... Dia mampu
membakar tiga dunia, neraka, bumi,
dan kahyangan
dengan kesaktiannya, ia juga mampu
membuat gempa
bumi. Karena kesaktiannya itu, ya
Paduka Batara, bantulah
hamba waktu hamba menggoda dia.
Hamba mohon
agar Maruta, sang Dewa Angin
menyebarkan wewangian
dari pohon-pohon hutan. Waktu hamba
bermain-main di
dekatnya nanti, hamba mohon Dewa
Angin menerbangkan
pakaian hamba dan Manamatha sang
Dewa Cinta
sebaiknya juga membantu hamba.”
‘Setelah berkata demikian, pergilah
Dewi Menaka ke
tempat Wiswamitra bertapa. Sesampainya
di depan pertapa
sakti itu, ia memberi salam hormat.
Kemudian, mulailah
dia merayu. Ketika itu berhembuslah
angin kencang,
melambaikan ujung bawah pakaiannya
hingga betisnya
yang indah tampak sekilas. Tapi,
angin bertiup semakin
kencang dan akhirnya menerbangkan
pakaiannya. Tanpa
busana, Dewi Menaka pura-pura malu
dan hendak
mengejar pakaiannya. Tak kuasa
mengalihkan pandangannya,
Wiswamitra terpesona oleh keindahan
payudara Dewi
Menaka. Ia tergoda, tak mampu
melanjutkan tapanya.
Gagal. Wiswamitra menghentikan
tapanya, memilih sang
Dewi, dan mereka hidup bersama.
‘Beberapa waktu kemudian, Dewi
Menaka mengandung.
Ketika tiba saatnya melahirkan, ia
pergi ke tepi Sungai
Malini di lembah Gunung Himalaya
yang indah. Di sana ia
melahirkan seorang bayi perempuan.
Bayi itu ditinggalkannya
di tepi sungai lalu ia terbang
kembali ke kahyangan.
‘Bayi itu dipungut dan diangkat
anak oleh Resi Kanwa.
Karena ketika ditemukan dilindungi
oleh burung-burung
syakuntala, maka bayi itu diberi
nama Syakuntala dan
anak itu menganggap Resi Kanwa
sebagai ayahnya.’
“Itulah cerita yang pernah hamba
dengar dari Resi
Kanwa, Paduka Raja,” kata
Syakuntala mengakhiri
ceritanya.
Mendengar cerita itu, Raja
Dushmanta berkata, “Menikahlah
denganku, wahai Syakuntala yang
jelita. Seluruh
kerajaanku akan menjadi milikmu.
Maukah kau menikah
denganku sekarang juga dengan
upacara gandharwa?
Upacara gandharwa adalah yang
paling utama dalam
keadaan seperti ini.”
Syakuntala menjawab, “Oh, Tuanku
Raja, tunggulah
sampai Bapa Resi datang. Mintalah
ijin lebih dulu pada
beliau. Hamba yakin, Bapa Resi
pasti merestui kita.”
Dushmanta berkata lagi, “Wahai
putri nan jelita dan
sempurna, aku ingin engkau menjadi
pendampingku.
Menurut hukum penciptaan, seseorang
adalah teman bagi
dirinya sendiri dan karena itu ia
bertanggung jawab atas
dirinya sendiri; dia sendirilah
yang menentukan segala
sesuatu tentang dirinya sendiri.
Menurut hukum itu,
engkau dapat merestui dirimu
sendiri. Dan ketahuilah, di
jagad ini ada delapan macam
perkawinan. Manu, sang
manusia pertama, merumuskan delapan
jenis perkawinan,
lengkap dengan urutan upacaranya.
Cara gandharwa
adalah yang paling sesuai dengan
sifat kesatria. Janganlah
engkau takut, jangan pula merasa
bimbang dan ragu.
Wahai putri tercantik, hatiku penuh
cinta kepadamu,
semoga engkau pun demikian.
Kabulkanlah permintaanku
dan kita menikah sekarang juga.”
Mendengar itu Syakuntala berkata,
“Bila itu memang
cara yang dibenarkan oleh agama,
dan bila sesungguhnya
hamba berhak memutuskan untuk diri
hamba sendiri,
dengarkanlah wahai pria utama
keturunan bangsa Puru,
ada syarat-syarat yang harus Paduka
penuhi! Berjanjilah
bahwa apa pun yang hamba pinta akan
Paduka kabulkan.
Anak laki-laki yang akan hamba
lahirkan hendaknya kelak
menjadi ahli waris kerajaan Paduka.
Itulah syarat hamba!
Wahai Raja Dusmanta, jika Tuanku
menerima syarat ini,
hamba bersedia menikah sekarang
juga.”
Tanpa mempertimbangkan
syarat-syarat yang diajukan
Syakuntala, Raja Dushmanta
menjawab, “Baiklah, akan
kupenuhi semua permintaanmu! Aku
bahkan bermaksud
memboyongmu ke istana setelah kita
menikah. Sebagai
permaisuriku, sepantasnyalah engkau
tinggal di istanaku.”
Kemudian, Dushmanta dan Syakuntala
menikah secara
gandharwa. Mereka bergandengan
tangan mengelilingi api
suci sambil mengucapkan
mantra-mantra. Maka sahlah
hubungan mereka sebagai
suami-istri.
Dalam keasyikan memadu kasih,
Dushmanta berulangulang
berjanji kepada Syakuntala bahwa ia
akan mengirim
seorang utusan untuk menjemputnya.
Utusan itu akan
dikawal sepasukan prajurit
kehormatan. Digambarkannya
bagaimana Syakuntala akan masuk ke
kota diiringkan
utusannya dan pasukan kehormatan
serta dielu-elukan
oleh rakyatnya. Setelah mengumbar
janji dan puas
berasyik masyuk, Raja Dushmanta
kembali ke kota raja.
Dalam perjalanan ke istana ia
berpikir-pikir, “Apa kata
Resi Kanwa yang suci dan agung itu
jika mengetahui
semua ini?”
Tak lama setelah Raja Dushmanta
pergi, Resi Kanwa
tiba di pertapaannya. Syakuntala
yang merasa malu dan
bersalah tidak menyongsongnya, seperti
biasanya. Tanpa
ada yang memberi tahu dan karena
kesaktiannya, resi
agung itu mengerti apa yang telah
terjadi.
Dengan kekuatan mata hatinya, Resi
Kanwa memandang
putri angkatnya. Kemudian, dengan
perasaan senang
dan lega ia berkata kepada
Syakuntala, “Anakku sayang,
apa yang telah kaulakukan secara
diam-diam dan sembunyi-
sembunyi tanpa menunggu restuku?
Aku tahu,
engkau sudah menikah dengan seorang
lelaki. Tak usah
kau cemas, pernikahan itu takkan
menghancurkan kebajikanmu.
Sesungguhnya, upacara perkawinan
gandharwa
antara seorang wanita yang bersedia
dengan seorang lakilaki
yang mencintainya adalah salah satu
upacara terbaik
di antara cara-cara kesatria.
Dushmanta seorang lelaki
yang baik dan berbudi tinggi.
Engkau, anakku Syakuntala,
telah menerima dia sebagai suamimu.
Anak laki-laki yang
akan kaulahirkan, akan menjadi
pemuda yang kuat dan
ternama di seluruh dunia. Ia akan
menguasai lautan dan
dikaruniai kesaktian yang tak
terkalahkan. Dia akan
menjadi raja diraja dan punya
berlaksa-laksa balatentara
perkasa.”
Syakuntala bersimpuh di depan ayah
angkatnya dan
membasuh kaki sang Resi. Kemudian,
sambil menata
buah-buahan yang dipetik sang Resi,
Syakuntala berkata,
“Hamba mohon, Bapa Resi berkenan
merestui Dushmanta
yang telah hamba terima sebagai
suami. Hamba juga
mohonkan restu untuk rakyat dan
kerajaannya.”
Resi Kanwa menjawab, “Demi kau,
anakku sayang, aku
akan merestui Dushmanta. Tetapi
untukmu sendiri, pintalah
hadiah yang kauinginkan.”
Syakuntala ingin agar keturunannya
dengan Raja
Dushmanta kekal sampai ke akhir
jaman. Karena itu, ia
memohon hadiah restu dari Resi
Kanwa agar raja-raja
Paurawa, yaitu raja-raja keturunan
wangsa Puru tidak
akan pernah kehilangan kerajaannya
dan senantiasa
ternama di seluruh dunia.
Ketika tiba waktunya, Syakuntala
melahirkan seorang
bayi laki-laki yang sehat. Waktu
berumur tiga tahun, anak
itu sudah kelihatan tampan, agung,
perwira, tangkas dan
terampil serta pandai dalam
berbagai ilmu pengetahuan.
Hari demi hari berlalu, kesaktian anak
itu semakin
bertambah dan nyata terlihat.
Dengan mudah ia menaklukkan
binatang-binatang buas yang
berkeliaran di sekitar
pertapaan. Para resi pertapa di
hutan itu menyebut dia
dengan nama Sarwadamana, artinya
‘sang penakluk
semua’.
Demikianlah, tiga tahun berlalu ...
Jangankan mengirim
utusan untuk menjemput, mengirim
pesan atau kabar pun
Raja Dushmanta tidak pernah. Apakah
Dushmanta sudah
melupakan Syakuntala?
Pada suatu hari Resi Kanwa
memanggil Syankuntala,
menyuruhnya agar menghadap sang
Raja. Resi itu berpendapat
bahwa sudah tiba waktunya untuk
mengantarkan
Sarwadamana menghadap ayahnya.
Katanya, “Anakku,
wanita yang sudah menikah tak boleh
terus-menerus
tinggal di rumah orangtuanya karena
ia takkan dapat
menjalankan kewajibannya terhadap
suaminya dan kebajikannya
akan rusak.”
Setelah mohon diri dan mendapat
restu Resi Kanwa,
berangkatlah Syakuntala dan
Sarwadamana diiringkan
beberapa resi sebagai pengawal.
Berhari-hari mereka berjalan
menembus hutan, menyusuri sungai,
dan menyeberangi
padang rumput luas sebelum akhirnya
tiba di
gerbang istana Hastinapura.
Dengan hati berdebar-debar,
Syakuntala dan anaknya
memasuki gerbang istana dan minta
dibawa menghadap
sang Raja. Setelah mengucapkan
salam hormat sepatutnya,
ia berkata kepada Raja, “Inilah
hamba Tuanku,
Syakuntala, istri Paduka dari
pertapaan Resi Kanwa.
Lihatlah, wahai Paduka, anak yang
tampan ini. Dia adalah
putra Paduka yang selama ini hamba
asuh di pertapaan.
Wahai Raja termulia di dunia,
penuhilah janji Paduka dan
nobatkanlah dia menjadi putra
mahkota. Ingatkah Paduka
akan janji yang Tuan ucapkan waktu
kita menjalankan
upacara perkawinan gandharwa di
pertapaan Resi Kanwa
dahulu?”
Mendengar perkataan Syakuntala,
Raja Dushmanta
ingat semua yang telah terjadi.
Tetapi, ia malu. Di hadapan
para perwira dan menteri kerajaan,
ia malu mengakui
perkawinannya dengan gadis pertapa
yang tak jelas asal
keturunannya. Untuk menutupi rasa
malunya, ia berkata
dengan marah, “Berani benar engkau
bicara seperti itu!
Aku tak kenal kau! Aku tak pernah
bertemu kau! Siapakah
engkau, hai perempuan jahanam yang
menyamar menjadi
pertapa suci? Aku tidak punya
hubungan apa pun
denganmu, baik karena dharma, kama
maupun artha.*
Enyahlah engkau dari sini dan
jangan pernah kembali!”
Mendengar kata-kata Raja,
Syakuntala sangat kaget,
bagai disambar halilintar.
Sekonyong-konyong kesedihan
menghunjam hatinya, membuatnya
terpana, tegak berdiri
bagai tonggak, tak sadarkan diri.
Tetapi... kemudian
matanya memerah, merah saga bagai
besi terbakar.
Bibirnya bergetar menahan
perasaannya. Dengan sorot
mata tajam ia memandang sang Raja,
seakan hendak
membakarnya hidup-hidup dengan api
kemarahannya.
Namun, karena terbiasa hidup
sebagai pertapa, Syakuntala
berhasil memusatkan pikiran sucinya
dan menahan
kemarahannya yang makin memuncak
serta kepedihan
hatinya yang seperti disayat-sayat.
Syakuntala pun berkata sambil
memandang Raja
dengan tajam, “Dengarlah, wahai
Tuanku. Hanya orang
rendah budi yang dengan mudah
berdusta dan ingkar
* Ketiga bentuk hubungan yang
dimaksud adalah hubungan tugaskewajiban
hidup, hubungan seksual dan
hubungan kekayaan hartabenda.
janji. Hamba yakin, dalam hati
Paduka pasti mengakui
kebenaran kata-kata hamba. Tetapi,
mengapa Paduka
memilih berdusta, berkata tak
pernah mengenal hamba,
tak pernah menikahi hamba? Hati
nurani adalah saksi
atas kebenaran dan kepalsuan.”
Syakuntala diam sejenak. Kemudian
melanjutkan
dengan tegas dan penuh amarah. Raja
tak lagi disapanya
dengan sebutan Paduka atau Tuanku.
“Jika engkau mengatakan yang
sebenarnya, takkan
turun derajatmu. Orang yang
mengingkari kenyataan dirinya
berarti mencuri atau merampok
dirinya sendiri.
Kaupikir, kau dapat mengatakan
tidak tahu atas perbuatanmu
sendiri. Tidakkah kau tahu bahwa
Yang Maha
Purba, Yang Maha Tahu bersemayam di
hatimu? Ia mengetahui
dosamu, dan kau telah berbuat dosa
di hadapanNya.
Seorang pendosa mungkin berpikir
bahwa tak seorang pun
tahu akan dosanya, tetapi
sesungguhnya segala perbuatannya
dilihat oleh Dia yang bersemayam di
hati setiap
manusia. Orang yang menghina
dirinya sendiri dengan
berdusta, tidak akan direstui
olehNya, bahkan jiwanya
sendiri pun tidak akan merestui.
“Aku adalah istri yang mengabdi
pada suami. Dengan
kemauanku sendiri aku datang kemari
untuk menemui
kau, suamiku. Itu benar. Tetapi
janganlah karena alasan
itu aku kauperlakukan hina. Aku
adalah istrimu, istri raja,
dan karenanya berhak mendapat
perlakuan yang terhormat.
Apakah engkau tidak bersedia
menerimaku karena
aku datang atas kemauanku sendiri?
Di hadapan begitu
banyak orang, di istanamu yang
megah mulia, mengapa
kauperlakukan aku seperti perempuan
biasa? Bukankah
engkau yang memintaku menjadi
permaisurimu? Lupakah
engkau? Tidakkah engkau mendengar
kata-kataku?
“Wahai Raja Dushmanta, jika engkau
menolak apa yang
kupinta, waspadalah ... kepalamu
akan pecah menjadi
seribu, seketika ini juga!”
Karena Raja Dushmanta tetap diam,
tak menanggapi,
bahkan membuang muka, Syakuntala
melanjutkan katakatanya.
“Seorang suami yang merasuk ke
dalam tubuh istrinya
akan keluar dalam wujud anak.
Begitulah yang selayaknya
terjadi. Karena itu seorang istri
disebut jaya, yang berarti
‘dari mana seseorang dilahirkan’.
Sebutan itu berasal dari
para ahli kitab suci. Anak yang
terlahir secara demikian
akan menyelamatkan jiwa
nenek-moyangnya dari api neraka
dan karena itu disebut putra oleh
Sang Pencipta. Karena
melalui anaknya seseorang akan
mampu menaklukkan
tiga dunia. Melalui anaknya pula
seseorang akan dapat
menikmati kedamaian abadi. Dan
bersama anak-cucu dan
cicitnya, seseorang akan menikmati
kebahagiaan kekal.
“Istri yang sejati pandai mengatur
rumah tangga. Istri
yang sejati mengabdikan seluruh
jiwanya kepada suaminya.
Ia bagaikan belahan jiwa suaminya
dan menjadi
teman utama di antara semua teman
suaminya. Istri adalah
dasar agama, keberuntungan, dan
hasrat-keinginan.
Istri adalah akar kelepasan untuk
mencapai moksha,
kebahagiaan hidup abadi. Ia yang
mempunyai istri dapat
melaksanakan hidup berkeluarga dan
mempunyai teman
di waktu suka dan duka. Istri
berperan sebagai ayah dalam
upacara keagamaan, sebagai ibu di
kala sakit dan duka.
Bagi seorang pengembara, istri
adalah penghibur di kala
gundah. Ia yang mempunyai istri
dipercaya oleh semua
orang. Karena itu, istri adalah
harta paling berharga yang
bisa dimiliki seorang lelaki.
Ketika suami meninggalkan
dunia ini dan menghadap Batara
Yama, istri yang setia
akan mengikutinya ke dunia sana.
Istri yang lebih dulu
meninggal akan menanti suaminya di
dunia sana, tetapi
jika suami mendahuluinya, istri
yang bijaksana akan segera
menyusulnya ke dunia sana.
“Atas dasar semua itulah, wahai
Raja Dushmanta,
seorang lelaki menikahi seorang
perempuan. Seorang
suami menikmati keakraban seorang
istri baik di dunia ini
maupun di dunia sana. Telah
dikatakan oleh para arif
bijaksana bahwa seorang suami pada
hakikatnya terlahir
sebagai anak lelaki istrinya.
Karena itu, istri yang
melahirkan anak laki-laki haruslah
dianggap sebagai ibu
sendiri oleh suaminya. Memandang
wajah putranya,
seorang lelaki seperti berdiri di
depan kaca dan menatap
wajahnya sendiri. Ia akan merasa
bahagia ibarat orang
suci yang mencapai surga. Laki-laki
yang muram karena
sedih hatinya atau sakit badannya
akan merasa segar
kembali di samping istrinya, bagai
orang yang kegerahan
mendapat air sejuk untuk
membersihkan badan. Tidak
seorang laki-laki pun, bagaimanapun
marahnya dia,
dibenarkan melakukan sesuatu yang
tidak menyenangkan
istrinya. Istri ibarat tanah suci
tempat suaminya dilahirkan.
Bahkan dewa pun tidak sanggup
mencipta makhluk
tanpa wanita. Adakah kebahagiaan
yang lebih besar
daripada kebahagiaan seorang ayah
waktu anaknya lari ke
dalam pelukannya?
“Karena itu, wahai Raja Mulia,
mengapa engkau bersikap
tidak peduli pada anakmu yang
datang menghadap
ayahnya? Lihatlah, anakmu
memandangmu, penuh harap
dan ingin disambut oleh pelukan
ayahnya. Seekor semut
saja bisa memindahkan telurnya
tanpa merusaknya,
mengapa engkau tidak bisa menerima
anak ini? Hatimu
dingin membeku. Kauingkari anakmu,
darah dagingmu
sendiri! Coba resapkan, sentuhan
lembut seorang wanita
atau segarnya air yang sejuk jernih
tak sebanding dengan
kebahagiaan yang akan kaurasakan
ketika kausambut dia
dalam pelukanmu.
“Biarlah anak ini menyentuh dan
memelukmu. Di dunia
ini, tak ada yang lebih nikmat
daripada pelukan anak
kandung kita. Wahai Pahlawan
Perkasa Penakluk Musuh,
akulah yang melahirkan anak ini!
Wahai Raja, anak inilah
yang akan bisa mengenyahkan segala
kesusahanmu.
“Raja bangsa Puru yang mulia, anak
ini akan melangsungkan
upacara aswamedha dengan korban
seratus
kuda! Sesungguhnya, orang yang
bepergian jauh dari
rumahnya akan menggendong anak
orang lain. Dengan
mencium kepala anak itu mereka
merasakan kebahagiaan
yang besar. Engkau, wahai Raja,
pastilah tahu bahwa para
pendeta mengucapkan doa dari kitab
suci Weda waktu
mentahbiskan seorang anak. Doa itu
adalah:
kau dilahirkan dari badanku
kau tumbuh dari hati nuraniku
kau adalah diriku sendiri
dalam wujud bayi
hiduplah seratus tahun lagi
hidupku tergantung padamu
juga kelangsungan bangsaku
wahai anakku, justru kepadaNya
wahai anakku, justru karenaNya
hiduplah kau penuh bahagia
hingga seratus tahun usia
“Sadarlah wahai Raja, ia lahir dari
badanmu. Ia adalah
bagian dirimu! Lihatlah anakmu ini,
maka engkau laksana
melihat bayang-bayangmu di air
telaga bening. Ibarat api
pemujaan yang dinyalakan di rumah,
demikian pula anak
ini berasal dari dirimu, menjadi
pelita hidupmu. Walaupun
tunggal, engkau telah membagi
dirimu.
“Waktu kau berburu, mengejar-ngejar
binatang di dalam
hutan, aku engkau dekati. Wahai
Raja, waktu itu aku
masih gadis di pertapaan bapaku,
Resi Kanwa. Kau tanya
asal-usulku dan kujawab aku putri
Dewi Menaka, bidadari
yang diperintahkan Batara Indra
untuk turun dari kahyangan
dan menggoda Wiswamitra, seorang
pertapa mahasakti.
Bersama bidadari-bidadari Urwashi,
Purwachitti,
Sahajanya, Wiswachi, dan Gritachi,
Dewi Menaka berhasil
menggagalkan tapa Wiswamitra.
Pertapa itu tak kuasa
menahan nafsunya melihat kecantikan
Menaka. Mereka
memadu cinta. Sayang, Wiswamitra
meninggalkan Menaka
yang sedang mengandung. Ketika tiba
waktunya, Menaka
melahirkan aku di lembah Gunung
Himalaya. Karena tidak
mendapat kasih sayang suami, ia
kembali ke kahyangan,
meninggalkan anaknya.
“Dosa apakah yang pernah kulakukan
dalam kehidupanku
sebelum ini, hingga waktu masih
bayi aku dibuang
oleh orangtuaku? Dan sekarang ...
engkau membuangku,
mengingkariku! Kalau kau tak sudi
menerimaku, aku akan
kembali ke pertapaan Bapaku.
Tetapi, tidak pantas engkau
membuang anakmu sendiri!”
Setelah mendengar semua itu, Raja
Dushmanta berkata,
“Hai Syakuntala, aku tak ingat
pernah punya anak
laki-laki denganmu. Banyak
bicaramu, tapi tak ada artinya
sedikit pun. Bicara dusta, itu yang
engkau bisa! Siapa yang
akan percaya pada ceritamu? Karena
kehilangan kasih
sayang, Dewi Menaka yang jalang
membuang bayinya di
lembah Gunung Himalaya. Ayahmu,
Wiswamitra, brahmana
hidung belang yang gagal tapanya
karena tergoda juga
kehilangan kasih sayang. Aku tahu,
Dewi Menaka adalah
bidadari utama dan ayahmu adalah
resi paling agung.
Mengingat engkau anak mereka,
mengapa engkau bicara
seperti perempuan jalang?
Kata-katamu tidak pantas
didengar. Tidak malukah engkau
menceritakan asal-usulmu
yang penuh dosa? Pergilah, hai
perempuan jalang yang
menyamar sebagai pertapa suci. Di
mana ayahmu, Resi
Wiswamitra yang masyhur? Di mana
ibumu, Dewi Menaka
bidadari yang utama? Mengapa orang
sehina engkau
menyamar sebagai pertapa suci? Aku
tidak kenal engkau!
Enyahlah, pergilah ke mana engkau
suka!”
Syakuntala menjawab, “Wahai Raja,
engkau bisa
melihat kesalahan orang lain walau
hanya sekecil butir
pasir, tetapi engkau tak mampu
melihat keburukanmu
yang sebesar gajah. Dewi Menaka
adalah bidadari utama
yang tinggal di kahyangan. Karena
itu, hai Dushmanta,
kelahiranku sesungguhnya lebih
mulia daripada kelahiranmu.
Kau berjalan menginjak tanah di
bumi, sedangkan
aku mengembara di langit biru!
Lihatlah perbedaan di
antara kita, saksikanlah kekuatanku
nanti. Aku bisa
mengunjungi kahyangan tempat
tinggal Dewa Indra,
Kuwera, Yama, Baruna, dan dewa-dewa
lain, kapan saja.
Sungguh aku tidak berdusta.
“Orang yang buruk rupa selalu
menganggap dirinya
lebih tampan dari orang lain,
sampai ia melihat wajahnya
sendiri di kaca. Ketika itu barulah
ia sadar akan perbedaan
wajahnya dengan wajah orang lain.
Dia yang selalu bicara
jahat berhati busuk, ibarat babi
yang selalu mencari
kubangan lumpur walaupun berada di
tengah taman
bunga.
“Demikianlah, dia yang jahat selalu
mencari-cari
keburukan dalam kata-kata orang
lain, namun orang yang
bersih hatinya selalu menyimak
kata-kata orang lain dan
menyaringnya; yang baik dan benar
diterima, yang salah
dan dusta dilupakan. Ibarat angsa
yang selalu dapat
memisahkan susu dari air*, orang
jujur senang menghormati
orang yang lebih tua dan tidak suka
membicarakan
keburukan orang lain. Sebaliknya, orang
jahat senang
memfitnah dan mencari-cari
kesalahan orang lain. Yang
jahat selalu berkata buruk tentang
yang jujur, tetapi yang
jujur tidak pernah menyakiti yang
jahat walaupun ia
sendiri disakiti.
“Seorang pria yang punya anak
laki-laki —yang merupakan
bayangannya sendiri— tidak akan
pernah mencapai
dunia yang diidam-idamkannya bila
ia tak mau mengakui
anaknya. Dewa-dewa akan
menghancurkan kebahagiaan
dan kejayaannya. Nenek moyang kita
mengajarkan bahwa
anak laki-laki adalah penerus
kehidupan keluarga dan
bangsanya. Karena itu, upacara yang
dilaksanakannya
adalah upacara terbaik dari segala
jenis upacara keagamaan
dan tidak seorang pun boleh
melupakan putranya.
“Menurut Manu ada 5 macam anak
laki-laki: 1) yang
diciptakan bersama istri sendiri,
2) yang diperoleh dari
pemberian orang lain, 3) yang
dibeli berdasarkan
pertimbangan tertentu, 4) yang
diasuh dengan kasih
sayang, dan 5) yang diperoleh dari
wanita-wanita yang
tidak dikawini. Anak laki-laki
memperkuat agama dan apa
yang diperolehnya akan memperbesar
kegembiraan
* karena angsa yang anggun dan
putih bersih adalah perlambang
kebajikan
ayahnya. Karena itu, wahai Raja
perkasa, tidak perlu engkau
membuang anakmu sendiri.
“Wahai Raja penguasa dunia, pujalah
kebenaran, kebajikan
dan dirimu sendiri dengan memuja
anakmu. Tidak
pantas engkau mempertahankan
kebohonganmu. Kebenaran
lebih penting daripada seratus
upacara korban suci.
Tidak ada yang lebih tinggi dari
kebenaran. Wahai Raja,
kebenaran adalah Dia Yang Maha Benar.
Kebenaran
adalah sumpah tertinggi! Oleh sebab
itu, jangan langgar
sumpahmu. Biarlah kebenaran bersatu
dengan engkau.
Kalau engkau menghiraukan
kata-kataku ini, dengan
kemauan sendiri aku akan pergi dari
sini. Sesungguhnya
aku tahu bahwa persahabatan denganmu
lebih baik
dihindari. Tetapi, hai Dushmanta,
kelak setelah engkau
tiada, anakku ini yang akan
menguasai dunia yang
dikelilingi empat samudra dan
dihormati oleh raja-raja dari
segala penjuru.”
Setelah mengucapkan kata-kata
keras, Syakuntala
meninggalkan Dushmanta. Begitu
Syakuntala hilang dari
pandangan, terdengarlah suara dari
langit meskipun tak
ada sosok yang terlihat. Dushmanta,
dikelilingi para
pendeta istana dan para menteri,
mendengar suara itu
berkata.
“Seorang ibu ibarat kulit dari
daging. Anak laki-laki
berasal dan merupakan citra
ayahnya. Karena itu, wahai
Dushmanta, sayangilah putramu dan
janganlah menghina
Syakuntala. Wahai Raja mulia, anak
yang berasal dari
benihmu akan menyelamatkanmu dari
kekuasaan Batara
Yama dengan upacara-upacara
keagamaan. Engkau adalah
asal-mula anak ini. Syakuntala
tidak berdusta. Ingatlah,
suami yang membagi dirinya menjadi
dua, terlahir kembali
melalui istrinya dalam wujud anak
laki-laki.
“Wahai Dushmanta, pujalah dan sayangilah
anakmu,
buah rahim Syakuntala. Kau akan
tertimpa malapetaka
besar jika menyia-nyiakan dia. Anak
yang berjiwa agung
itu akan dikenal dengan nama
Bharata, artinya yang
dipuja’!”
Kemudian suara dari kahyangan itu
lenyap.
Setelah mendengar kata-kata itu,
Raja merasa sangat
gembira. Ia berkata kepada semua
orang yang ada di hadapannya,
“Kalian dengar sabda dari langit
tadi? Sebenarnya
aku telah mengakui anak ini sebagai
anakku sendiri.
Tetapi, jika kupungut dia dan
kuturuti kata-kata Syakuntala
begitu saja, rakyatku pasti curiga
dan anakku
dianggap anak haram.”
Akhirnya Raja memerintahkan agar
dilakukan upacara
khusus, yaitu upacara yang
dipersembahkan seorang ayah
untuk anaknya. Dengan upacara yang
lain, Syakuntala
diterima sebagai permaisuri. Anak
itu diberi nama Bharata
dan dinobatkan menjadi putra
mahkota. Kelak di kemudian
hari, keturunan Bharata menjadi
bangsa yang besar.
***